PURA MAJAPAHIT GARUDA WISNU KENCANA/PRABU AIRLANGGA


Pura Majapahit GWK berupa Padmasana sederhana yang dibeli hanya 200.000 rupiah [Penulis ikut membeli] Pelinggih ini Stana Prabu Airlangga [dibuat nama Universitas Airlangga Surabaya], Ayahnya Prabu Udayana [dibuat nama Universitas Udayana Denpasar], Ibunya Dewi Mahendradata [nama Universitas tertua di Bali dan Nusatenggara: Universitas Mahendradata jl. Ken Arok Denpasar], Dilinggihkannya Pratima Prabu Airlangga dari Pura Majapahit Jawa, pada tahun 2004, Upacara Ngenteg Linggih, Odalan, Caru dll. Dipuput Ida Pedanda Buruan Bang Manuaba, Bebanten Odalan dibuat oleh Gusti Subawa yang juga muput sebagai Pendeta Budha, Gamelan Upacara milik Hotel Wina Juga nyumbang Banten Odalan, Gamelan Br. Giridarma sumbangan dari GWK. Odalan Umum Purnama Kelima dan selalu terus diadakan, Ida Pedanda Bang Buruan Manuaba pernah muput di Pura ini 5X, Ida Pedanda Wanasari Pemilik Bukit In juga pernah datang muput [Hyang Suryo diberi gratis tinggal di Hotelnya depan Pak Kepala desa Ungasan],  Pura ini juga merayakan Waisak yang dipuput Ida Pedanda Manuaba, Gusti Subawa, Biku Acun, Bante Putu dari Surabaya. Odalan IMLEK juga dirayakan Di Puput Ida Pedanda Manuaba yang mengaku Pedanda Majapahit [Darmawacana mengatakanAgama Hindu lahir 1961], Sebuah Candi Budha hasil Karya Ngayah Penyungsung, pembangunan dikerjakan bersama oleh Antaralain: Biku Sin/ Sidarta Indrajaya [Nama di TVRI] ikut masang bata, Mpek Hongci Pendeta Bun Bio, Bpk. Cunfe,Lim Peng Hong, Hartono[Pasuruan], Bante Putu[Surabaya],Komang Artanegara[ saya sendiri pegawai GWK] dan Masyarakat bergotong royong membuat Candi ini.
Pada Hari Tumpak Wayang Odalan lokal Candi ini, dan terus diupacarai. Padmasana Wisnu Odalan lokal Prangbakat, karena di cor Pas hari Prangbakat, dan selau diupacarai Kecil maupun besar Odalan nya tergantung sumbangan Banten Odalan Para Penyumbang, pernah Prangbakat disumbang Ful Banten Odalannya oleh Cok dari BRI [diborong tanpa bayar]  Tiap Kelompok bisa memborong Banten Odalan tanpa memberatkan Pura Majapahit, Jadi Pura terima bersih tanpa keluar uang se Sen pun, para penyungsung lah nyumbang Odalan, Gamelan, Tarian, Wayang datang sendiri, dan Leluhur Prabu Airlangga tidak pernah Ngemis, minta di Sungsung dll, ini untuk menangkal Penjelasan Kelian yang mengatakan tidak disungsung warga Giri Darma yang Bohong Besar, Pura tidak pernah mendata warga yang hadir, tapi Ke iklasan. Nyatanya Gamelan Giri Darma main di Pura, Anak-Anak sore hingga jam 20.00, sedang Orang Dewasa/Tua jam 20.00 hingga Larut malam, sekarang Seke ini Bubar setelah dipegang Kelian yang memberi penjelasan di Media Tentang Pura Majapahit Tidak di Sungsung warga, Aneh dan Lucu Bhatara Wisnu disuru Ngemis agar di sungsung? Juga Untuk menangkal Penjelasan AMPLIK Ketua PHDI Kuta selatan menuduh tidak makai adat Hindu, kami akui Hindu lahir 1961 jadi Odalan,Caru, Ngenteg linggih adat Majapahit dulu dianggap bukan adat Hindu [yang lahir 1961 menurut Ida Pedanda Bang Manuaba], Ida Pedanda Telabah, AA ng. Darmaputra SH hampir saja menuntut Amplik, Yang dijelaskan Brahmaraja XI bahwa mungkin maksud Amplik benar, Amplik mungkin tidak pernah Odalan, cukup memakai Lilin menyala [Api], Selembar [Daun] dan segelas [Air], sesuai Weda dari India, yang dikatakan cukup Api, selembar daun dan Air sebab Weda India Utara Salju/Pegunungan Himalaya tidak seperti disini yang subur makmur banyak Buah, Padi, Ketan, Jaje, Busung [Ibu Amplik juga jualan Busung] dll. Jadi dengan penjelasan ini Kemarahan Umat reda, bahkan banyak yang tersenyum [Sesuai permintaan Polisi agar maredam kemarahan umat]. Bulan depan Odalan yaitu Purnama Kelima, Pura Majapahit sudah tidak Mengedarkan Undangan lagi nanti dikira Prabu Airlangga Ngemis. Cukup kesadaran Yang Ngundang/Penyungsung/Simpatisan jawa-Bali dll.
Bahkan Dari Tibet sudah tahu dan pernah hadir, Universitas Mahendradata, Waktu Peresmian Pura Ibu Jimbaran Banyak Utusan Dari Cina pakai selempang hadir ikut kirap Pratima ke Pura GWK, Puri-Puri/Griya-Griya cukup banyak yang Nyumbang, Juga masyarakat Ungasan-Jimbaran selalu ngayah sejak dulu termasuk saya [penulis] yang tidak perlu didata dan dilaporkan Kelian. Jadi Leluhur menerima adanya Keiklasan, bukan nyumbang besar tidak iklas. Sebab Beliau ke Bali diundang, Contoh Ijin Pelinggih ditanyakan AA. Rai Dalem GM GWK ini agak lucu? Leluhur suru minta ijin lagi, Padahal yang ngundang GWK, sampai sekarang belum ganti nama, belakangan ada yang ngukur, sejak awal diberi, Bila Ruko diteruskan Pembangunannya entah kapan, Pelinggih tidak kena karena diluar Garis Ruko terdahulu, dan sebelah Rurung Agung yang oleh Kelian dikatakan tidak baik Pura dekat jalan ke Seme, Justru Pretima DURGA dulu melinggih di GWK, Dulu Masuk Pura justru lewat Rurung Agung karena Jalan depan masuk Ruko ditutup Bambu tidak boleh dilewati karena tanah dalam masalah, Tapi berhubung Pura Majapahit akhirnya Bambu dibuka, yang nutup ikut tangkil ke Pura, Kelian sekarang Pernah Demo minta Jalan Rurung Agung kepada GWK [masuk TV], akhirnya pihak GWK memberi jalan, Lalu setelah AA. Rai [pihak GWK] damai dengan Kelian, lalu kerja sama mau menggusur Pura Majapahit, apa hasilnya? Kini Rurung Agung ditutup masyarakat dengan BATU, karena mengobok-ngobok Prabu Airlangga yang di Patungkan GWK, Masak Airlangga menggusur Airlangga coba anda pikir? Dulu Ruko Gedong Pratima ada Pelinggihnya, digusur dibuatkan tempat diareal barat  Ruko itu yaitu Pelinggih Penari, Kemudian dibangun Ruko Lalu Prabu Airlangga yang menempati Ruko bekas Pelinggih Penari, Juga Dewi Durga dilinggihkan di Ruko menggantikan Ibu Penari. Kini Semua nya Bungkam, baik Kelian maupun AA. Rai Dalem [GWK] itu Rurung Agung di tutup Batu oleh masyarakat Bali yang marah masak Prabu Airlangga Kawitan Orang Bali di Gusur? Coba dibilang jalan juga untuk Pura Majapahit masa tega Orang Bali nutup jalan ke Pura Leluhurnya? inilah Penjelasan agar Masyarakat mengetahui yang sebenarnya, bukan terkecoh Amplik Ketua PHDI Kuta Selatan dan Kelian yang tidak Abadi Jabatannya/ bisa ganti dan ganti Aturan, seperti GWK ganti Investor Pura-pura tidak tahu bikin masalah pada Niskala, dulu GM lama bahkan menyediakan tempat diruang Kaca diatas untuk Pratima Airlangga tapi ditolak Penyungsung tetap menyatu dengan Leluhur lain termasuk Dewi Durga, yang ketika di pinjam Universitas Mahandradata untuk di upacarai di Kampus terjadi Keraohan masal [saya yang mendokumentasi/motret] bahkan yang kedua kalinya Bali Hujan Banjir [Diberitakan media] jadi ada bukti Niskala kekuatan Leluhur kita yang di Jawa dilarang di Upacarai kerana Adat Arab Dominan di Jawa, lihat Jawa Hancur, harusnya bersyukur Leluhur berada di Bali untuk bisa diupacarai Keturunan di Bali yang tidak di TUMPAS seperti di Jawa, dulu 1965 Orang tidak ke Masjit ditumpas sampai Bayinya dengan cap PKI. Sampai Bung Karno pengikut nya juga di Tumpas, Ajaran Bung Karno Pendiri R.I Penggali Pancasilapun di Larang, untung Bali bebas melestarikan kini ada Sukarno Centre, Sampai Budaya Odalan, Caru, Ngenteg Linggih dll hanya di Bali yang bisa, di jawa tidak ada Orang ngerti napi itu Bebangkit? karena 500 thun ikut adat Arab, sampai Prabu Brawijaya pun masuk Islam, pisah dengan Sabdopalon, disumpahi Sabdopalon bahwa Keturunannya akan susah, dan nyata , Orang jawa tinggal di bawah jembatan di Arab, makan nasi Aking, dilanda bencana Banjir, Lumpur Lapindo, gempa, Tsunami, dll, apa Bali mau ikut jejak Prabu Brawijaya masuk islam/Arab itu Ali Orang Arab ditangkap Densus 88 mendanai Teroris [Berita TV]. juga Bali pernah di Bom 2X mari kita intropeksi diri.Untuk Pura Majapahit ini saya paling tahu, mengikuti sejak awal dan dulu Kantor saya didepan Pura. Dan saya Pengurusnya Pura sekarang. Bahkan waktu pemberian tempat Pelinggih saya ikut menyaksikan karena termasuk saya yang diberi, saksi lain banyak, Awal pemberian Biku Sin Indrajaya [Direktur MGK]Darmawacana 2jam kepada umat dan memberi tempat untuk Pelinggih. kalau disangkal ya anggap Orang Kerauhan yang memberi, Tapi bisa Darmacana tentang Buda, Nyumbang Odalan saya yang nerima uangnya karena saya Bendahara Pura, Bahkan Pura disumbang AC saya yang masang atas nama GWK, Biku Sin Indrajaya bahkan ikut membangun Candi Buda yang dituduh Amplik Model Candi di Jawa. Sebetulnya semua tahu, Direktur Utama GWK yang memberi, ikut Nyumbang Odalan, memberi meja Pratima, ikut Ngatur Tatacara nya., Membantu Air PAM untuk Odalan dan sehari-hari, Disel Listrik sebelum ada sumbangan PLN dari pejabat Jakarta, Ketika ada Pejabat PLN dari Jakarta Tangkil [padahal orang jawa] langsung Bpk. Adnyana Kepala PLN Denpasar ikut Tangkil langsung dapat Listrik PLN, padahal  Investor belum punya Listrik, akhirnya Ruko-ruko depan bisa dinyalakan dan terang benderang tidak kegelapan, ini membuat Orang Kagum Pura Majapahit lebih Hebat dari Investor, Pejabat datang besok listrik menyala,  Memang Investor baru tidak tahu tapi AA. Rai Dalem tahu, dia Orang Lama. Pura-Pura tidak tahu. Tidak berani membela Kawitan padahal ngaku Orang Majapahit. Memalukan, Orang Jawa saja tangkil, melihat gelap pakai lilin langsung memanggil Pejabat PLN setempat langsung Byar menyala tidak Pet gelap, Pura dan Ruko terang benderang. Orang Bali malah tidak membantu [Amplik, Kelian, AA. Rai] bahkan menjabat bukan membela malah menggusur. Lihat Orang jawa umat Pura Majapahit demikian membela, padahal tidak ngerti Banten, kalau datang cukup ngenyit Dupa, tapi membela segi lain seperti Listrik, Kita? malu donk dilihat umat dari Jawa, disana Dilarang kegiatan Pura nya, mereka sampai jauh-jauh ke Bali kalau Tangkil. Mudah-mudahan mereka tidak baca Internet tentang AA. Rai Dalem, Amplik dan Kelian yang tidak mendukung Leluhur nya yang diberi Listrik.. SEMOGA ,kalau tahu mau ditaruh dimana muka kita?
[Penulis: Drs. Komang Artanegara pegawai GWK sejak sebelum Prabu Airlangga tiba/ penduduk Asli Ungasan]
Iklan