PURA IBU MAJAPAHIT SAMBUT PARLEMEN SE DUNIA


Berita Mangkunegaran Mbangun Tuwuh : Dalam rangka menyambut Kunjungan Delegasi Parlemen se Dunia di Bali, di Tanah Lot dadakan Gebyar Seni Budaya & Parawisata Indonesia 2007, Pura Ibu Majapahit Jimbaran diminta ikut dalam Gebyar ini dengan Pameran Pusaka Twin Exbition [Pusaka Kembar], Pusaka Majapahit ini diantaranya Keris Gajahmada Yang waktu Berada di Puri Anom Tabanan Pada hari Tumpak Landep berhasil merobohkan Pohon beringin dengan hanya ditudingkan dari jarak 200 m oleh Gusti Ngurah Rake [Peg, DLLAJR], Panitia Gebyar seni Gusti Agung, dan Mangku Dewa Bayu menjemput Pusaka ke Pura Majapahit Ibu [Candi Singalayapura], ternyata malah Keraohan, Juga Mangku Hasil juga keraohan Gajahmada [ada VCD nya]. Akhirnya rombongan berangkat menuju Tanah Lot tempat Gebyar Budaya, Sampai di Tanah Lot keadaan Para Peserta Gebyar lagi Panik, mereka mau membatalkan Pameran, Disebabkan Malamnya lokasi Pameran diserbu Wereng/Kepik/binatang sebesar Lalat Ijo berjuta-juta hingga kalau ngumpul menjadi gundukan setinggi 1 merer, GRP. Nokoprawiro sambil menurunkan Keris-Keris Pusaka dari mobil berkata ” Tenang, ini ada Keris Penolak Wereng, Penolak Hujan, Penolak Penyakit dll”  Peserta dari Jawa Bali khususnya dari Jogja sangat percaya karena Keris Gajahmada sudah dipublikasikan di Media Jogja, Akhirnya dengan Ragu-Ragu Pameran dilanjutkan, para peserta menata tempat masing-masing, Malam harinya aneh, tak seekor Werengpun Hadir. Sri Wilatikta Brahmaraja XI atau lebih dikenal Hyang Suryo ketika datang malam itu diberi tahu Para peserta Pameran, dijawab “Ah, jangan cerita bohong, mana Werengnya?” Ada Peserta menunjukan HP nya, karena Hyang Suryo tidak bawa Kacamata, ya dijawab enteng, “Mana, Buktikan mau saya lihat”  sambil keluar jalan-jalan mau melihat Wereng tapi tidak ada, Para peserta tetap ngotot cerita semalam banyak Wereng. Pameran yang dimulai 30 April 2007 ini, Pusaka-Pusaka Majapahit juga sempat dilihat Ibu Megawati Soekarnoputri, Para Mentri, Para Prjabar Negara, Bupati se Bali, Pemuda Pemudi Hindu se Dunia, Delegasi Perlemen se Dunia dll. Delegasi Parlamen se Dunia dengan Aman Diner, melihat Kecak, Tari-Tarian dll Tanpa diganggu Wereng, Pameran ini direncanakan 3 bulan, Banyak Orang Bali yang datang Karaohan yang mengatakan Harus ada Pelinggih Gajahmada, masak Gajahmada di Kemah?, Untuk mengikuti Adat, dibelilah Pelinggih Kecil seharga 125.000 rupiah dan diletak kan di Batu Belah, sebuah Gundukan Batu didepan Tanah 50 hektar milik Investor dari Jakarta, masuk desa Belalang dan Dari Kemah Pameran kelihatan Jelas, Pameran masuk Desa Beraban, setelah ada Pelinggih Kecil itu, Pameran sesuai Adat Bali, Gajahmada ada Pelinggihnya, tiap tamu ditunjuk kan itu lho Pelinggih Gajahmada, Masak di Kemah, Banten Upacara dibuat Puri Anom Tabanan Gusti Ngurah Panji [Keben nya bagus dihias manik-manik masih dibawa Mangku Noko], Mangku Alas Angker, dan banyak yang nyumbang Bebanten, mereka senang, habis berkunjung Pameran Berdo’a di Pelinggih Kecil itu, Bapak Babinsa yang mewakili PANGDAM sangat mendukung bahkan menjelaskan Batu itu, wilayah desa Belalang, nanti kalau Investor Jakarta Komplain akan dijelaskan, Bahkan ada Pengusaha yang kenal Investor tsb, hadir di Pameran dan kenal Pemilik tanah, bahkan akan melaporkan ke Jakarta, juga mengatakan Orangnya Baik, tidak mungkin komplain, Sebab mungkin senang Batu Belah didepan Tanahnya ada Pelinggih Gajahmada. Pameran berjalan Lancar, tiap Orang Bali habis sembahyang langsung berjalan ke Pelinggih yang cukup jauh tapi kelihatan dekat, Aneh lagi Ada Pelangi di Pelinggih, ini disaksikan Rombongan Mahasiswa/siswi Universitas Mahendradata dibawah pimpinan Gusti Arya Wedakarna yang juga Ketua Pemuda Hindu se Dunia, Rombongan ini yang jumlahnya Ratusan akhirnya mandi dibawah Pelangi yang Sinarnya Masuk membumi, Jadi ketika mandi seolah memasuki Alam Lain, Juga Brahmaraja ikut mandi mendampingi Pemuda terpandai di Dunia ini [Nyabet 5 Penghargaan MURI] dan DOKTOR termuda di Dunia [26 th] juga REKTOR termuda Didunia. Akhirnya Pameran tidak jadi 3 bulan, 15 Mei 2007 Pusaka-Pusaka Majapahit diiring Pulang Ke Pura Ibu Majapahit Jimbaran, pada Keesokan Harinya Pemangku GRP. Nokoprawirodipuro sekitar jam 17.00 menyerahkan HP nya kepada Brahmaraja XI kebetulan banyak Tamu membahas Pameran yang sukses, “Ada yang mau bicara” jelas GRP. Noko, didepan Orang Banyak HP diterima, Bagaikan disambar Petir Brahmaraja XI diperintah oleh suara di Telpon kalau Pelinggih Gajahmada nya supaya di Bongkar, Penelpon mengaku dari Badan Otorita Tanah Lot, Brahmaraja XI menjawab kalau Tanah Lot masuk desa Beraban , sedang Pelinggih masuk desa Belalang kan Lain wilayah? lalu dijawab “Tolong di Preline saja Pak”, HP oleh Brahmaraja XI diserahkan Mangku Noko agar di urus, apa maksud Orang tak dikenal tersebut. Akhirnya Brahmaraja meditasi dan berkata: ” Leluhurku, Hyang Mahapatih Hamengkubumi Pemersatu Nusantara, Ada orang yang tidak senang akan Keberadaanmu di Pantai Selatan Bali, Pelinggih Mu disuruh Mempreline” habis berdo’a Datang Ombak besar di Batu Belah, Pelinggih Hilang  Tanpa bekas disapu Ombak setinggi 7 meter [Laporan Penduduk kepada Mangku Noko juga ada esoknya] Akhirnya Banyak Orang termasuk Bpk. Abdi Negara Walaka PHDI, Gusti Nengah Jero Jaksa Tabanan, Gusti Kukuh Putra Gusti Madan Ahli Srada Puri Sunantaya Penebel dan banyak lagi ingin membangun kembali Pelinggih itu, Brahmaraja tidak setuju “biarlah Beliau sudah mempralina Diri tidak usah dipikirkan”, Demikianlah yang aneh di TV disiarkan beberapa hari kemudian desa Beraban ada Orang Tewas kena Flu Burung, Desa Beraban Tanah Lot kemasukan Flu Burung. Rencana Gusti Raden Panji Noko Prawirodipura, Bila di Batu Belah ada Pelinggih, kelak bila Investor sudah membangun Hotel di Tanah tersebut, tentu diatasnya bisa minta 2 are untuk tempat Upacara Gajahmada, ini Kelak, entah kapan, Itu dulu, kini kan sudah tidak jadi Tulisan ini tinggal kenangan sejarah bahwa di Batu Belah Pernah Melinggih Gajahmada biarpun 2 minggu, Wilayah Kuta, Nusadua sudah penuh bangunan dan Hotel, kemana kita berdo’a dipinggir Laut, Coba di Batu Belah tidak di Pralina, apalagi yang melinggih GAJAHMADA pemersatu NUSANTARA, biarpun Batu yang pecah ini simbul diatara pecahan itu dibuat Pelinggih sang Pemersatu agar Negara tidak Pecah, memang kalau dilihat secara Duniawi ya kecil hanya Pelinggih Orang Lacur seharga 125.000,- rupiah, Tapi maknanyanya Besar, karena Pameran mendadak jadi tidak bisa diputuskan dengan Rapat-Rapat, Pameran di Kemah, dari kemah kelihatan Batu ditengah Laut, Adat Bali Pura Majapahit kok di Kemah? akhirnya dibuat kilat, kebetulan Pemilik tanah, Bos Besar di Jakarta, masak batu yang pecah depan tanah nya tidak boleh dipakai Pelinggih Pemersatu Nusantara Gajahmada? Berita Mbangun Tuwuh Majalah Pura Mangkunegaran Solo hanya Berita Global Pameran yang di Kunjungi Ibu Megawati, ini kemudian ditambah Detail Berita, dan diceritakan kembali untuk dijadikan Sejarah bahwa Keris Gajahmada, Pratima Ratu Mas, dan Pusaka-Pusaka Majapahit pernah “NYEJER” di Tanah Lot untuk menyambut Delegasi Parlemen se Dunia, Pemuda Hindu se Dunia dll. juga bisa MENOLAK WERENG hingga tidak memalukan DUNIA para TAMU DINER dikroyok WERENG,- [Gusti Heker]
About these ads