KERIS GAJAHMADA PERNAH NYEJAR DI PURI ANOM TABANAN


Pameran Pusaka Majapahit di Bajra Sandhi dilanjutkan ke Puri Anom Tabanan beberapa bulan, Dan Hyang Suryo yang Berabiseka Sri Wilatikta Brahmaraja XI diberi rumah di Kubon Tingguh bekas Kerajaan Majapahit di Bali yaitu Puri/Keraton Arya Kenceng, Pameran/Nyejer Pusaka ini sangat banyak mendapat perhatian masyarakat, Dijaga Kerabat Puri Anom, tiap malam penuh Orang Makemit, Akhirnya waktu Pameran ada Hari baik yang disebut TUMPAK LANDEP mangku Jagatnata dan Kerabat Puri ingin mengupacarai, dan Baru Pertamakali inilah Pusaka Majapahit di Upacarai Tumpak Landep sejak 500 tahun Keruntuhan Majapahit Trowulan, Acara ini cukup meriah, dihadiri Utusan GWK yang mengincar kapan Pameran berakhir, karena sudah di sediakan tempat di GWK, waktu itu Pratima Prabu Airlangga juga ada di Puri Anom, sebelum ke GWK malah sempat pulang ke Jawa lalu dipendak lagi di Gilimanuk eleh Gamelan Mengui, Pura Rambut Siwi dll. di Linggihkan di GWK dimana Beliau di Patungkan, Kembali ke Tumpak Landep: Gusti Ngurah Rake pegawai DLLAJR masih Kerabat Puri Anom disaksikan Banyak Orang didalam Mrajan Puri Anom, Pria Paruh Baya ini tiba-tiba memegang dan mengangkat Keris [Mungkin Keraohan] semua terpukau tidak berani mencegah disisi lain seorang Wanita [Istri Ngurah Panji] Menangis sambil mengeliat grliat sambil bertriak ” Awas, Awas de Ngawak…” Gusti Ngurah Rake rupanya juga keraohan karena yang hadir banyak para Sesepuh dari Jawa maka Beliau berkata ” Wahai Gajahmada ! Tunjukkanlah Kekuatanmu” dan “GEDABROOOOK” ada suara dimana Keris tadi di ARAHKAN, Orang Panik berlarian menuju kearah Suara, Ternyata Pohon Beringin [berusia Ratusan Tahun] didepan Puri Anom Atasnya Roboh, hampir menimpa Mobil DR. Suryawan, beberapa senti dari mobil, Tak lama Hujan Angin Pohon-Pohon di Wilayah Tabanan pada Roboh semua, Esoknya seorang Tokoh didaerah Tuak Ilang sempat berkata “Lain kali jangan boleh Atu nya nyoba nyoba Keris, kami Orang Bali Percaya dengan Pratima, Tak usah di coba, nanti Duka Bhatara” sambil membenahi Pohon Besar yang Roboh dekat rumahnya. Belum cukup disitu, Kembali ketika Bazar PDIP, Gusti Ngurah Anom minta Menolak Hujan, Oleh Hyang Suryo secara bercanda diajari “Goreskan ketanah tanda Silang, Terus Arahkan kelangit dan ucapkan permintaan” Dengan Serius Sang Gusti Keturunan Raja Bali Arya Kenceng ini melaksanakan Titah, Ketika Keris di Arahkan ke Langit entah apa yang diucapkan, Hanya mulutnya terlihat Komat Kamit membaca entah Mantra apa, Aneh Suasana Gelap, berubah Langit diatas Puri Anom Terbuka Berbentuk Bulat di Sekitar Puri bahkan di Tabanan Hujan Deras Tapi Puri Anom tidak Hujan Bahkan Bazar Sukses sampai Pagi, Para saksi sampai sekarang masih ada, dan bisa ditanyakan. di Jawa Pusaka- Pusaka ini hanya di simpan, di Bali tiap Pusaka di Beri Pejati, Canang setiap Hari, bahkan Baru diupacarai Tumpak Landep yang pertama kali nya sejak 500 tahun, Mungkin Beliau Gembira dan mendapat Kekuatan, menunjukkan Kesaktiannya. Berita ini sampai diberitakan Bukan Media Bali saja, tapi Media Jogja, yang hadir memang banyak dari Jawa juga, Bahkan Keraton Solo, Jogja dan Orang Jawa Masih Percaya kalau Keris ada Isi/Roh nya sesuai Mpu yang membuat dan untuk apa Keris itu di Buat, jadi Kegunaan Keris berbeda-beda sesuai Kehendak Pemilik dan disetujui Mpu nya,- inilah berita Nyata, tulisan ini bukan promosi, tapi mengingatkan kita agar Menghargai Warisan Leluhur, dan memang hanya di Bali Benda-Benda Pusaka di Sung sung, di Upacarai seperti Keris, Pratima, Uang Kepeng dll, Memang banyak yang minta Minta Souvenir Majapahit, Tapi Hyang Suryo membelikan Patung Baru Produksi Trowulan untuk diberikan Touris Mancanegara, Belakangan ada SMS dari Orang yang tidak senang, mengatakan Palsu, memang banyak Keris Produksi Mpu masa kini yang di jual kepada Touris, tentunya yang Asli dilestarikan agar tidak Punah, Di Madura ada Pabrik Keris di Aing Tong-Tong Hyang Suryo pernah di Undang kesana, disambut Tari Ngibing, pesta Gule, olaeh Bapak KH, Ruksam, sepulangnya dari Aing Tong-Tong, Karena dikunjungi Hyang Suryo, Listrik dan Telepon masuk desa itu, Penduduk banyak yang berterimakasi padahal kebetulan saja berkunjung bersama Pejabat,- Jadi marilah kita lestarikan Budaya Kita Yang Adiluhung, Memang di jawa Kurang Mengerti Pelestarian sampai Musium Radiyapustaka Solo Patung-Patung Perunggu Asli banyak ditukar Patung Produksi Trowulan, Asli nya hilang, mungkin di jual, hingga Polisi memintai Pembuat Patung Kuningan Trowulan Keterangan, siapa pemesan Patung di Solo [Berita koran] untuk itu Hyang Suryo Jarang menunjukkan Pratima karena sudah di Linggihkan dan di Upacarai, kalau ada Orang minta ya dibelikan saja untuk Souvenir, Kalau Sungsungan kan tidak bisa di minta? Pernah Pratima Sungsungan diminta oleh Ibu Erna seorang Pengusaha Diler Mobil dan buka Ayam Taliwang di Sanset Road, lalu oleh Hyang Suryo diberi Patung Baru Buatan China, tapi ditolak, dia minta Patung yang di Sungsung, akhirnya Biokong Pura memberi penjelasan bahwa Adat Bali Pratima yang di Sungsung tidak Boleh diminta, inilah parahnya Orang sekarang “Sing Nawang Unduk” ya kita maklum Majapahit dijawa 500 tahun hilang baik adat budayanya, Pratima dianggap barang yang bisa dibeli, Pura Majapahit dianggap Toko Antik, barangnya bisa di Beli, ini sangat menyedihkan, memilukan dimana Leluhur dianggap Barang Dagangan, Tapi kita harus Maklum, kalau di Trowulan malah di anggap tempat Setan sampai ditutup, Untuk jaga-jaga Orang minta memang harus disediakan Art Shop, dipusat Informasi Trowulan juga sudah ditulisi “Art Shop Majapahit” [belum dibuka] nanti bila pengunjung ramai Art Shop menyediakan Souvenir/Cindramata jadi kita maklum untuk Orang yang di Jawa kurang paham, semua dinilai uang, bila antik dijadikan uang, sampai Barang baru pun di proses biar antik, inilah Kekayaan Budaya kita yang dikagumi Dunia, kita Bangga Barang-Barang kita di Gemari Dunia, Kalau Bali lain Touris tidak Melihat Tuanya Barang, tapi Seni nya hingga Orang Bali tetap berkarya membuat Patung, juga Trowulan kini membuat Patung-Patung Batu yang laris dijual ke Bali dan Manca,-Semoga dengan membaca ini kita semakin Bangga Dengan Leluhur Majapahit Yang pernah Menyatukan Nusantara dengan BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DARMAMANGRUWA kini dipakai Dasar Negara yaitu Pancasila yang digali Bung Karno Pendiri Negri ini. dari kitab yang lestari di Bali yaitu SUTASOMA. Semoga Sri Paramitha / Ibu Nusantara Memberikan Kita semua yang percaya KEJAYAAN selama BULAN dan SURYA masih ada. Demikianlah Hidup di Dinia Rwa Bineda, ada Siang ada Malam, ada Laki ada Perempuan, Ada yang senang ada yang Benci semua harus dihadapi dan tetap berpegang Petuwah Leluhur “BECIK KETITIK OLO KETORO” dan melaksakan “MGELURUG TANPO BOLO MENANG TANPO NGISOR’AKE  SUGIH TANPO BONDO SAKTI TANPO AJI” adalagi    “OJO DUMEH” bangsa kita banyak punya Sanepo Bahasa kita 8 Tingkatan: contoh Mati, Modhar, Sedho, Praloyo, Bongko, Pejah, Sare, Tiwas, dll. Negara mana yang punya istilah sebanyak ini?  lagi Makan: Mangan, Mbadog, Nyekek, Nguntal, Nedo, Nunas, Ngajeng, Ngiyun, Dahar, dll,- dari Bahasa kita Kaya, Negara juga Kaya punya: Mas, Perak, Tembaga, Nikel, Pasir Besi, Minyak, Elpiji, Kayu, pokoknya lengkap didunia luar tidak ada,- Di Timur Tengah Negara sudah Mengelompok ke ISME jadi sulit bersatu Contoh Arab Negara Kelompok WAHABI, Irak kelompok SIAH, Iran kelompok SUNNY, Afganistan kelompok TALIBAN , Kurdistan kelompok KARBALA dll, lalu islam Indonesia ikut yang mana? kalau ikut WAHABI ini parah tidak percaya Sejarah itu Rumah Nabi Muhammad dihancurkan di buat Mal agar Nabi tidak di Kultuskan/dipuja/disekar dll. TALIBAN? sama itu Patung Budha Ribuan Tahun di Hancurkan tanpa Perduli Peradapan Manusia, Bahkan Candi Borobudur pun di BOM 1983, Bali di Bom 2X yang baik kita lestarikan budaya kita yang adiluhung saling menghormati, dan Maap ini bukan Pura Majapahit Trowulan di Tutup nyiarkan Persatuan, tidak sekali lagi tidak, kita gara-gara ditutup malah Maju, bahkan kita berterima kasih pada yang nutup, bila Odalan Dekat, tanpa membuang Uang Transport ke Trowulan, Uang di Ful kan ke Banten Odalan, Matur Suksma, [Gusti Heker cs]