RUWATAN MASAL DAN KELUARGA MAJAPAHIT BALI


Berita dari Mangkunegaran Majalah Mbangun Tuwuh Pimpinan Kanjeng Pangeran Sontodipuro: Pada Hari Rabu 15 Oktober 2003 Hyang Bhatara Agung Suryo Wilatikto Brahmaraja XI Memimpin Ruwatan Masal di Bali, Dengan di dampingi Prabu Darmawangsa dari India [Memasangkan Mahkota Wisnu kekepala Hyang Suryo ketika akan  Meruwat]  Mangku/Guru Balimula [motong rambut]dan Mangku Pura Dalem Menguwi ikut membantu, Ruwatan ini adalah yang terbesar dan Pertama sejak 500 tahun Keruntuhan Majapahit, Juga menggunakan Wayang asli Majapahit dari Menguwi. Yang sudah berusia Ratusan tahun, Ruwatan ini bertujuan membersihkan dan menyucikan Jiwa Raga Komunitas Bangsa agar terlepas dari segala macam tidak keberuntungan dalam menjalani kehidupan. Dalam Ruwatan ini Hyang Surya [mengenakan Mahkota Wisnu India] menumpangkan CAKRA senjata Bhatara Wisnu diatas kepala yang diruwat, Sementara itu Prabu Agung Dharmawangsa memerciki dengan Air Suci yang diambil dari mata air seluruh Dunia,  Mangku Bali memotong Rambut yang diruwat dan dilarung ke Laut. Sebagai simbol pelepasan segala ketidak baikan dan ketidak beruntungan. Acara ini Menurut Hyang Bhatara Agung Suryo tidak ada hubungannya dengan Agama, tapi mutlak budaya yang berlaku sejak jaman nenek moyang kita. Masyarakat Bali, maupun dari Jawa berjejal jejal mengikuti Ruwatan Geratis ini, [yang kaya nyumbang Banten Ruwatan] Panitia Ruwatan  DR. Ignatius Sony [lulusan Leiden], dibantu  DR. Suryawan [Forum Studi Majapahit], Romo Yanto [Kejawen], DR. Tjandra, Bunda Mercia dll, para Pakar ini juga mendanai agar Orang tidak mampu bisa ikut Ruwatan. Diadakan dihalaman Hotel Sindhu Sanur Bali. [Membuang Rambut Ruwatan dekat] GM Sindhu Drs. Sordjarwo juga ikut Sponsor.[memberi kamar Gratis Buat Hyang Suryo] Sebelum Ruwatan di Bali, Hyang Bhatoro Agung Suryo Wilatikto juga dipercaya Meruwat Kota Kadiri Jawa Timur. yang juga diikuti Tokoh-Tokoh Bali. Setelah mengadakan Ruwatan terbesar Abad ini, di Bali, Bhatoro Agung Wilotikto / Sri wilotikto Brahmaraja XI kembali mengadakan ruwatan Keluarga di Rumahnya di Buleleng. Puri Pide / Keraton Lama 1829 / Rumah Raja /Tjakra Tanaya Graha  depan Pura Desa, Sebelah Pura Melanting Sukasada Singaraja pada bulan Januari 2006, Ikut diruwat: Gusti Teken [ Sesepuh Bali Utara/Musium], Gusti Latria [ Adik Pahlawan Let Kol Wisnu], Gusti Kukuh [ Puri Sunan Toya Tabanan], Gusti Ngurah Pide [ Ketua Keraton Tanaya] Gusti Nengah Prawiranegara [Tabanan], DR. RM Moedjiono [Dosen IKIP] asal Jogja,  DR. Gusti Arya Sunu [Dosen IKIP], Para Gusti dan Parameswarinya dll. Mangku Teratai Bang ikut membantu dan Rombongan Pura Majapahit GWK dibawah pimpinan Gusti Kampial. diakhir Ruwatan Gusti Teken, Gusti Arya Sunu dan Para Mangku membuang Rambut Para yang diruwat ke Laut di Pura Segara tepat jam 24.00 malam. Tambahan  Saat itu para Tokoh di Singaraja menginginkan terwujutnya Patung Ganesa dan Hyang Bhatoro Sri Wilotikto meminta agar Patung Ganesia Majapahit di Sung sung di Singaraja, dan akhirnya terwujut Patung Genasa Tertinggi di Asia lebih dulu dari GWK tempat Pura Majapahit, Patung ini masuk MURI dan diresmikan 12 Februari 2006 Sri Wilatikta Brahmaraja XI dan Ibu Sukmawati Soekarnoputri menandatamgani Prasasti Peresmian dihadiri seluruh Dunia, Dalam Sambutannya Brahmaraja XI, mengatakan justru mengapa Singaraja bisa cepat mewujutkan Ganesa? Karena Seorang Ibu Singaraja pernah melahirkan Ganesa, siapa itu Ganesa? dialah Bung Karno, Orang tersakti dan Terpandai seperti Dewa Ganesa, Gelar DOKTOR Bung Karno 26, bukan main, Ditembak, di Bom, di Penjara, di Buang Luar Jawa tetap sakti, dan tidak Kapok berjuang, ya akhirnya kalah oleh Akal-Akalan Bangsa sendiri, Beliau Tewas dalam Tahanan Negara yang didirikannya sendiri ya itu REPOEBLIK INDONESIA, ironis. Di Trans TV Acara Ruwatan/nolak hujan dibahas dalam “Acara Halal apa Haram” dari kacamata MUI acara ini…. Tanya saja Trans TV. apa kata MUI,-*** Memang acara ini Warisan Leluhur Bangsa kita sendiri, Percaya atau tiudak itu hak Asasi Tapi kalau Sudah Dosen, Turunan Raja Majapahit Bali yang bangsa sendiri percaya , Orang/Negara Agama Luar Indonesia seperti Arab[maap Negara Arab sih tidak pernah ikut campur] yang bangsa kita sangat menyucikan sebaiknya menahan diri,[jadi untuk orang Indonesia berjiwa Arab] untuk tidak terlalu anti, sebab Anda Tinggal dibumi Nusantara dulu milik Leluhur kita sendiri sebelum Ada Agama Rasul yang baru masuk Abad XV tahun 1500 an 500 tahun yang lalu, terbukti setelah Kerajaan Islam memegang Negri ini cuman 75 tahun dan BELANDA yang Kristen berhasil menguasai 350 tahun, Jepang 3,5 tahun Merdeka 69 tahun coba dihitung ulang, Dan Tentara Matahari Terbit Jepang justru drngan mudah mengalahkan Belanda, dan mendidik Bangsa kita jadi Tentara Pembela Tanah Air [PETA] cikal bakal TNI, ini kan nyata. Kasian Jepang dan Para Pejuang  yang menyetujui Pancasila Dasar Negara, sekarang berubah Syariat Islam, Sanggar Saptodarmo dihancurkan, Dayak Hindu Buda dibubarkan, Gereja di BOM, Pura Majapahit Trowulan di tutup, dll dst dsb, Padahal ada UU HAM, UUD 1945, semua kalah oleh Qur’an dan Hadist. Bali di Bom 2X, Jawa berulang-ulang, Banyak bangsa kita ditembak jadi Teroris, Arab nya ada tertangkap membiayai Teroris. itu malah Mbambung tinggal dibawah jembatan Di Arab, bahkan banyak yang pulang mati, cacat, dikirim ke RS Singapura karena lukanya parah, dll dst dsb. Hidup di negri sendiri ingin melaksanakan adat sendiri, malah dilarang bangsa sendiri, dengan hukum negri Padang Pasir, ironis, ironis….