PURA MAJAPAHIT BUKAN DONGENG 1001 MALAM nya ABUNAWAS


Jaman Dahulu di Majalah Banyak Cerita Kepahlawanan yang menjadi Suri Tauladan dan Kerukunan sangat dihargai, Bahkan Bung Karno pernah berkata jangan berpolitik kalau belum baca SAMKOK, Cerita Sie Djien Kwie Tjengtang diteruskan Tjengsee, Bharata Yudha, Wajang Poerwa, Palguna Palgunadi, Ming Hyang Nie dll. setalah 1965 Pembunuhan Orang besar-besaran dengan cap Komunis, Tulisan Cina dilarang, sampai kegiatan Klenteng dan apapun yang berbau Budaya Cina dilarang, Sejarah Kepahlawanan ditutup, Banyak pahlawan Pejuang Kemerdekaan di penjara, contoh Bung Tomo pun pernah di Tahan, Gubernur Bali Sutedja Hilang di culik sampai kini tak ketahuan rimbanya, Pendopo memasang Foto Bung Karno dihancurkan, bahkan Orang nya bisa di bunuh di cap PKI, akhirnya Cerita-Cerita Arab yang dominan, Dakwah pun di desa-desa hanya cerita Agama, rak’yat minim pengetahuan,, lebih-lebih semua takut Cerita berbau Cina, Pada hal kita saudara, Makam Cina banyak digusur, ijin Gereja saja tidak pernah turun, nekat Hancur, Punden/Tempat Leluhur dihancurkann conto Batu di Makam Mbah Jonggo Bukit Karanggayam Trenggalek di Gelundungkan kebawah tapi aneh kembali ketempat nya semula, dan banyak lagi Sarean-sarean tak luput Penghancuran, Ruwat deso juga diberantas di anggap Musrik, bahkan Larung Sesaji di Telaga Ngebel Ponorogo dilarang Bupati [berita koran] Adat Jawa diberantas HABIS-HABISAN, kebetulan penganut Kejawen banyak dibunuh, Jadi Banyak Orang buta Sejarah sendiri, Jangankancerita Rak’yat, Buku Tentang Bung Karno pun dilarang, semua Buku dianggap Komunis, jadi sejak 1965-2009 adlah 49 tahun bila waktu itu umur 10 tahun sekarang tentu seorang Kiyai umur 59 tahun, mereka tidak kenal siapa Bung Karno Pendiri R.I, Penggali Pancasila, Sejarah benar-benar ditutup, Hingga Reformasi, Nyepi, Waisak Libur Nasional, Barongsai diijinkan lagi, dipedesaan, semua tidak tahu apa itu Budha, jelas tidak ada cerita Sidarta, Konghucu yang Warganya Kawin tidak diberi surat, berita memenuhi Media, Rak’yat dididik Anti Agama selain Islam, Pejabat dengan sinis mengatakan Orang Cina Nyembah Pekkong, ini sangat Mengejut kan ternyata semua tertulis nyata dalam Buku Tan Koen Swie, yang baru awal 2009 diterbitkan sebagai Sejarah Kadiri, Sama ketika 500 tahun yang lalu Orang selain islam dikatakan Kafir/Kufur/Batil/Kawak/Kuwuk dll, kitab Buda, Lontar-Lontar dibakar, 1965 sama juga,- Prof. DR Slamet Moelyana Pakar Majapahit bukunya dilarang, Beliau sampai Mengajar di Universitas Nan Yang Singapura [ majalah Tempo] Jadi apapun berbau Majapahit, Bung Karno, Komik Lokal tidak beredar, justru Cerita Arab, Kepahlawanan Perang Salib anak anak pada Hafal, Perang Arab Israel, dimana Israel dijelek-jelek kan, kita di ajar Larut mengikuti Cerita Timur Tengah khusus cerita Nabi, Komik pun yang berbau bukan Arab langka, kalau tidak salah ada Komik “Serangan 1 maret di Jogja” yang beredar di pedesaan jawa Tengah. Sejarah memang ada, itupun kalangan terbatas, Ada sejarah Senirupa jilid 2 tapi untuk Mahasiswa seni, disitu ada Candi-Candi Majapahit untuk Orang Seni Pematung/Pelukis yang mungkin juga kurang diperhatikan, Hak pengarangpun dibatasi, buku banyak dilarang, pikiran dipersempit/diperbodoh, tidak ada buku perbandingan selain buku cerita Rosul Arab, jadi monoton, Agama pun Monoton, selain Masjit jangan harap dapat ijin, Gereja pun banyak dirusak/dibakar, tontonan kekerasan Agama hingga kini selalu Primadona, Bisa Menghancurkan Sanggar Sapto Darmo, Membakar Kampus/Masjit Ahcmadiah, Ribut Agama melecehkan Agama lain dsb dst dll berita Afdol di TV. Pidato-Pidato hanya kebesaran Arab di pedesaan, Pengajian keliling tiap rumah, nanti orang bikin Acara selain Acara Arab sudah di curigai, sampai Jaranan harus ada ijin, Samroh’an, Terbangan pokok seni Arab bebas. Karena mayoritas, akhirnya sudah sangat menguasai dianggap pedesaan sudah seperti di Arab, Busana pun Arab. ini makin menjadi jadi sampai Warung Buka di Ramadan di TV dipertontonkan Satpol PP ribut sama pemilik warung yang dilarang buka, Orang makan lari terbirit-birit,  dipertotonkan seolah sedang di Arab 1000 tahun yang lalu, di Arab saat ini tidak separah di Negri ini, berita Arab paling Nyoting Para Tenaga Kerja Ratusan tinggal di Bawah jembatan di Arab, Babu Mati ditangisi Keluarganya Petinya baru datang dari Arab, Wanita luka parah pulang dari Arab dikirim Singapura berobat,  Yang Spektakuler itu Abu Ali ditangkap Densus 88 membiayai Teroris, Tapi kini hilang sudah, Pengepungan Teroris diwarnai berondongan Bedil ala Film TV jam 21.00 di Trans/Glogal. di Trowulan Takmir/Imam Karyona Kupluk’an Kaji dan Selempang Kain Arab di Bahunya, bak Pemilik Negara Sliwar Sliwer Memata-matai Pura Majapahit, tempat Leluhur Nusantara, yang dianggap Kegiatan Setan dan Musuh Negara [Arab?], Ada Orang Bali datang cepat menggalang anak buahnya Nyerbu Pura, bukannya Aparat membantu Pura, malah Pemilik Pura Majapahit [korban]di panggil Surat Resmi ke POLRES Mojokerto, Akhirnya 5 Pengacara dari UNTAG mendampingi, dan dari Pengacara kini Hyang Suryo Pemilik Pura/Keraton Majapahit dilarang mendatangi panggilan apapun, tiap panggilan harus diserahkan Pengacara, demikian ironisnya Hidup di Pedesaan, Apalagi Trowulan Pusat Majapahit yang harusnya dijaga, dibuat Percontohan Pancasila, Karena disinilah Pernah Tinggal Mpu Tantular, serta Kebesaran Majapahit, bukan diserahkan segelintir Orang Arab berpisik Jawa, mentrapkan Adat arab 500 tahun yang lalu [Arab sekarang Moderen, Babu ngimport dari sini], Sudah sejak Jaman Dahulu Cerita 1001 Malam Abunawas itu Dongeng Ngibul seperti Lampu Aladin dll, Orang diberi Harapan Punya Jin dan Kaya, padahal Cerita lebih Hebat milik Bangsa Sendiri banyak seperti Pendirian Candi Sewu hanya semalam, Roro Jonggrang, Panji Asmoro Bangun, Mahisasura Gunung Kelut dll Cerita Rak’yat 1001 malam nya Lokal, seperti Pura Majapahit memamerkan Acara Srada /Odalan Zaman Majapahit, dimana tidak perlu biaya Orang tulus iklas Upacara di Candi Yang jelas siapa yang melinggih, ini malah dilarang, memuja Leluhur sendiri dengan Acara asli Majapahit ditangani ahlinya, bukan rekayasa, Tapi dicurigai, memang karena banyak Orang Maling teriak Maling, Orang tukang Nipu orang lain pun dianggap Nipu, memang Nipu itu Hak asasi, Contoh Arab nipu Mati Ngebom nanti dijemput Bidadari, sah sah saja, yang ditipu kan mau ngebom bunuh diri,  risiko nya ada komplotannya dikepung Densus 88 dan mati ditembak. malah ini cocok dengan Karmapala nya orang jawa “Nandur Bakal Metik” istilah keren nya “Menabur Angin Menuai Badai” jadi Pura Majapahit Nyata, Upacaranya ternyata ada di Kitab NEGARAKERTAGAMA ngupacarai Ibu, di Pura Majapahit Ibu Ratu Mas bukan diambil dari kitab Arab, Candi Tempat Leluhur stil Majapahit biarpun kecil, Gapura Rumah Stil Majapahit dan satu-satunya di Trowulan yang memakai Kuri Agung Tumpang 3 yaitu Rumah Majapahit, semua dibikin nyata bukan dongeng, tapi dilarang bahkan ditutup olrh MUSPIKA atas perintah Imam/Takmir Karyono Wakil Arab.