HYANG SURYA KETUA IX KERABAT MAJAPAHIT


Pagi itu suasana Pura Suryadiningratan Jogyakarta agak berbeda dari hari-hari biasanya, Susana Di Bangsal Pendopo Manunggale Kawula lan Gusti wilayah Mantri Jeron Pura Tampak dipenuhi tamu, Sri Pakualam X disebelahnya Sri Wilatikta IX duduk berdampingan, dikursi belakangnya Walikota, Ketua DPRD dan Pejabat Jogja dan Para Undangan, semua menanti untuk dipersilahkan masuk Pura, tak lama Juru Bicara Pura berpakaian Adat dengan Wajah penuh senyum dan ramah mempersilahkan para Tamu untuk Tindak ke Dalam Pura, Dengan Jalan Membungkuk sambil Jempolannya menunjuk arah depan Para Tamu dipimpin melewati Kuri Agung Suryodiningratan, melewati Tamansari, Kemudian duduk di dalam Pendopo Agung, Dimana Para Pasukan berpakaian Majapahit [Pasukan ini pemain Film Tutur Tinular] memberikan sambutan selamat datang. Sri Pakualam X bersama Sri Wilatikta IX khusus dipersilahkan Berkeliling melihat-lihat Pura dengan diantar Pemuda Ganteng berpakaian Adat murah senyum dan Bahasanya sangat halus, menjelaskan Fungsi dan Nama Bangunan dalam Pura, diantaranya Meru Tumpang tiga Sanggar Pamujan untuk Leluhur dan juga tempat Meditasi Ketua Pura Prof. DR. KI Wisnuwardhana Suryadiningrat. Setelah berkeliling Pura lalu kembali dipersilahkan duduk di Pendopo Agung sambil menunggu Hadir/Rawuh nya Ketua Pura Prof. DR. Wisnuwardhana. Tari-Tarian Sambutan, Pemotongan Tumpeng Suro mewarnai Acara, hingga menambah Suasana pengunjung menerawang masa silam seolah-olah diera Kerajaan Zaman Dahulu, melihat Para Kawula, Abdidalem Mengenakan Busana Majapahit [sama di Film Tutur Tinular], Acara ini istimewa karena Hari Besar Suro Jatuh Jum’at Kliwon atau lebih dikenal Dino Wiwitan. Hari yang baik ini juga untuk melantik Hyang Surya Wilatikta No. Anggota: 00021 Sebagai Ketua IX Keluarga Besar Pendukung Budaya Spiritual Nusantara Asli/Religi dan Adat Nusantara Asli untuk mengurusi Kerabat Mojopahit. SK No: 027/KPTS/III/2002 telah diterimakan malam harinya di Hotel Suryodiningratan tempat menginap Hyang Surya, dimana Beberapa Abdidalam berpakaian Adat sekitar jam 19.00 [sudah masuk tgl. 15 Maret 2002 adat Jawa jam 18.00 masuk tanggal berikutnya] datang sambil menyerahkan SK, dan mengatakan besok akan dilantik, karena hari nya sangat Utama, untuk mencari hari Jum’at Kliwon bertepatan 1 Sura dibutuhkan puluhan tahun bisa ratusan. “Ini putusan Romo jangan ditolak, pokoknya besok dilantik, jam 8 [15 Maret 2002] pagi kami jemput untuk upacara di Pura”. Malam harinya suasana Pura/Puro Suryodiningratan makin meriah, jalan tertutup penuh orang berjualan dari Pecel sampai Gudeg, permainan anak, dll susana hiruk pikuk disamping mengalun irama Gamelan, Orang jualan pakai pengeras/Toa dll. Untuk memeriahkan Pelantikan diadakan Pagelaran Wayang “WAHYU COKRO PONCO TUNGGAL” Lakon ini ciptaan Ketua Puro/Keraton Suryodiningratan Prof. DR. KI WISNUWARDHANA SURYADININGRAT yang juga Dalang Jati Kondobuwono Bayu Kusumo Empu Bekso [Malam itu sekitar jam 21’00 tampak dilangit Cakra besar berputar ini banyak Kawula yang melihat] Pagi harinya diteruskan Pertunjukan Kesenian di Alun Alun Suryodiningratan, diantaranya Tarian Naga Bermahkota yang mirip Tarian Leang-Leong Cina pelengkap Barongsai, disamping juga Tarian Perang Pasukan Majapahit, Para Penarinya biasa main film Tutur Tinular, Banyak Film Laga mengambil Pemain dari Sanggar Tari Suryodiningratan. Kemudian juga diadakan Upacara Pemberian Pangkat, Kini malah Hyang Suryo Ketua IX menggantikan Romo Wisnuwardhana melantik Para Bala Madya Majapahit dengan Memberikan Gelang Kepangkatan sesuai Busana yang dikenakan, Busana dan Gelang ini menunjukkan Pangkat dan Gelar yang bersangkutan, Setelah Acara memberi Pangkat, Masyarakat memberi Ucapan selamat kepada Hyang Surya/Sri Wilatikta IX [Keturunan Brahmaraja ke XI], bahkan ada Nenek memeluk kaki Hyang Suryo sambil menangis/keraohan sambil berkata “Slamet…Slamet…Mojopaet…Tumurun…” , juga banyak Sesepuh, Mbah, Eyang pada sungkem dan hal ini agak bebas karena di Alun-Alun sebab mereka sulit masuk Pura, disamping tempat nya terbatas tentunya sungkan Masuk Pura/Keraton kalau tidak ada tugas khusus. Juga Hyang Suryo memberikan pidato sambutan diantaranya “Jogja pernah jadi Ibukota R.I, dan Bung Karno sebagai Pendiri dan Penggali Pancasila mengingatkan agar kita Mencintai Tanah Air, juga Jangan meninggalkan Sejarah” Ketika Pidato menyinggung Bung Karno banyak Para Pejuang Tua Nangis dan teriak-teriak Keraohan. Ribuan masa terpukau dan kebetulan DR. Made Warka dari UNTAG menyaksikan dan kemudian bergabung dalam Team Pengcara Pura Majapahit [Pura Suryodiningratan] Trowulan. Dimana ketika DR. Made Warka Panitia “SILATURAHMI KEBANGSAAN” 19 juni 2004 Hyang Suryo diundang untuk memberi semangat di Hotel Santika Jogja. Memang waktu itu jogja lagi banyak Demo ketika Hyang Suryo akan Pidato ditengah Masa di Alun Alun Jogja sempat dihimbau agar tidak Orasi, sebagai ganti Demonstran tidak ada yang di pukuli Aparat, Bandung waktu itu Demo di Gebuki Aparat. Made Warka sempat Kebingungan Nelpon terus mencari Posisi Hyang Suryo yang terpisah jauh karena Ratusan ribu masa memadati Alun Alun Jogja, Pengalaman Pidato di Alun Alun Suryodiningratan Yang Menyinggung Bung Karno membuat masa Histeris, DR. Made Warka menginginkan Hyang Suryo Pidato lagi memberi semangat masa, tapi berhubung ditengah kota dan Aparat meminta jangan Tampil dengan janji tak ada satupun masa yang digebuk/di popor bedil. Akhirnya Silaturahmi Kebangsaan ini diteruskan PDIP Koalisi Kebangsaan dengan GOLKAR. waktu itu DR. Made Warka tahu benar Pura Majapahit/Pura Suryodiningratan Trowulan lagi diobok-obok karena menjelang PEMILU. Demikianlah Kisah ini karena telah lama berlalu jadilah kisah Kenangan dimana Tepat 40 hari juga dihari Jum’at Kliwon Pfof. DR. Wisnuwardhana Kembali ke Alam Kamoksan dan Di Sarekan di Kuto Gede Makam Para Raja Mataram menyusul Romo RM Tjokro Hadiningrat [Putra Jendral Oeripsoemohardjo yang namanya diabadikan nama jalan di negri ini] Blitar, Yang juga salah satu Ketua Pura Majapahit/Pura Suryodiningratan Trowulan. Dari sini diketahui Romo Wisnuwardhana sangat Waskita Beliau tahu akan Kembali ke Kadewatan jadi segera melantik salah satu Narendra Majapahit untuk meneruskan Perjuangan MENANGI kembalinya Majapahit sesuai Janji Sabdopalon. Memang dalam Pidato terakhir Beliau di pelantikan Hyang Suryo sempat disinggung Janji Sabdopalon, Bayangkan Para Turunan Raja-Raja Jawa masa kini sangat Percaya Hyang Manikmaya atau Sabdopalon, kalau Orang ada yang mengatakan Tahayul/tidak percaya kan ironis sekali seolah Melecehkan Leluhur. Dalam pesan terakhir Romo Wisnuwardhana sempat berkata bahwa Beliau selama berjuang selalu memakai Nusantara agar tidak dihambat lawan, Dan Kagum dengan Hyang Suryo yang berani terang-terangan mengibarkan nama Majapahit yang juga benar pasti akan mengalami Hambatan kelompok yang anti Majapahit, Sayang Romo Wisnuwardhana telah tiada, Beliau tidak sempat melihat Kebesaran Pura Majapahit/Pura Suryodiningratan Jimbaran Bali. Hal tentang nama Majapahit juga diungkap Raja Balimula Putranata dalam pidatonya “Penyerahan Mahkota Majapahit” Bahwa Beliau Kagum pada Hyang Suryo berani menampilkan Majapahit, orang lain di ” Juk ” katanya, pidato 30 Mei 2008 di Puri Gading]. Foto belum bisa ditampilkan menunggu kiriman Dokumentasi Suryodiningratan Trowulan/DR. Made Warka, Gusti Raden Panji Nokoprawirodipuro Ahli Internet bisa menampilkan foto sepektakuler masa kini sambil menunggu foto kuno Dokementer. Juru Edit Penerbitan Gusti Heker sedang mengumpulakan Kisah Kasunyatan dari para saksi untuk diterbitkan secara Profesional.Keterangan Foto1: Hyang Suryo didampingi Sri Pakualam sedang diberi penjelasan tentang Pura Suryodiningratan Foto 2: Hyang Suryo Melantik/memberikan Gelang Kepangkatan kepada Putra-Putri Majapahit. Foto 3: Putra-Putri berbusana Majapahit.