MANGKU PURA MAJAPAHIT TERIMA PENGHARGAAN SRI MPU


Bapak Genden dari Baturiti, Oleh Sri Wilatikta Brahmaraja XI atau lebih dikenal Hyang Suryo diangkat sebagai Pemangku Sepiritual Pera/Puro Majapahit Trowulan. Mangku ini mengikuti Hyang Bhatoro Agung Suryo Wilatikto ke Puro Mangkunegaran, karena piawainya membaca mantra Majapahit dan membunyikan Genta, maka mendapat Penghargaan Bintang Budaya Sepiritual dan bergelar Sri Mpu Wang Bang Pinatih. Ditambah Bintang Dharma Budaya. Memang akhirnya di Bali menjadi Kontroversi, dimana malah tidak diakui, karena Mangku harus melalui Proses Diwinten/Dwijati oleh yang berwenang, Akhirnya Sri Wilatikta Brahmaraja angkat bicara, Bahwa di Trowulan tidak ada Mangkunya, lha untuk Orang Jawa tidak mengerti Prosedur Per Mangkuan, akhirnya diangkatlah Bapak Genden sebagai Mangku Oleh Brahmaraja XI mengingat Penampilan cukup dipercaya mirip Pinisepuh di Jawa yang berjenggot, Hafal Mantra dari Buku Mantra yang banyak di jual di Toko, bisa mainkan Genta/Bajra, ditampilkan di Pura Mangkunegaran Solo sangat membuat kagum Orang Jawa yang 500 tahun dipegang Kiyai tanpa Genta dan sesaji, Paling sebungkus Bunga dan Menyan, akhirnya di Jawa diakui dan bahkan dapat gelar Sri Mpu Pandito Mojopait. Ini sebenarnya untuk Lokal di Pura Majapahit, bukan untuk di Bali, Memang salah Bapak Genden kalau Show di Bali, tentu dipertanyakan. Di Majapahit, Kerajaan China Raja punya Hak mengangkat Pandita yang dianggap bisa memimpin acara interen bukan untuk umum, khusus diwilayah Keraton saja. Jadi hal ini memang banyak yang mempertanyakan, Kini Bapak Genden/Sri Mpu versi Majapahit Jawa sudah tidak di Pura Majapahit Trowulan, Beliau pernah diserbu Karyono mau di Bunuh dan melarikan diri ke Jakarta, Untung ada Cina yang menjemput atas perintah Hyang Suryo dan dilarikan ke Hotel Satelit Surabaya, Beliau tidak tahu Kalau ada mangku Bali sempat diseret keluar dari Pura, Pikirnya aman Pakaian Putih Udeng Putih, melihat ini Karyono mengumpulkan Masa entah darimana lalu jam 21 malam memasuki Pura Majapahit dan menggeledah Pura mencari Mangku Orang Bali karena terlihat berbusana Bali, untung jam 20 dijemput Om Tjun Fe dari Surabaya dilarikan ke Hotel Satelit tempat Hyang Suryo berkantor. Sebelumnya ada Telepon dari Trowulan bahwa Pura Mau diserbu Karyono sebab Ada Tamu dari Bali. segera Om Cun Fe ambil tindakan menjemput sang Mangku Jawa. Agar tidak jadi Bulan bulanan Karyono, bisa dibayangkan kalau tertangkap Karyono dikeroyok digebuki, bahkan bisa dibakar hidup-hidup, Waktu itu Gereja-gereja di Mojokerto pada di BOM Teroris lagi Berkuasa, WTC Hancur, Kuta luluh lantak, Kedutaan Australi Merotoli dll. Teroris Benar-benar Berkuasa waktu itu, Ketua RT bapak Sumono sampai Bersimpuh mohon ampun Karyono karena Mau di Saduk’ i [ditendangi] Karyono, Bak Il putri Pak RT sampai nangis melihat Gurunya Koirul Huda [Guru SMP Islam/Ketua Ansor] ikut mendukung karyono menyuruh Penduduk sekitar Pura Mengungsi Karena Pura Majapahit mau di BOM. Ketua RW Bapak Haji Sabar pun Ketakutan melihat Kaeyono yang di Dukung Ketua Ansor Koirul Huda “Saya malu sekali punya Guru Agama seperti Pak Huda yang suka nyerbu Pura sebelah saya”, Sejak itu Bapak Mangku Jawa Genden tidak pernah muncul lagi di Trowulan, ada kabar di Taman Mini Jakarta. Demikianlah Kisah Mangku Pura Majapahit yang dapat Penghargaan Mangkunegaran tapi hampir tewas ditangan Karyono. Informasi ini ya memang lucu tapi saat itu tentu serius Buktinya sampai MUSPIKA nutup Pura Majapahit. Yah inilah Kisah Budaya digebuk Agama. Ketika awal 2009 Pura Ibu Jimbaran dapat Kiriman Buku Sejarah Kadiri karangan Tan Koen Swie Sangat membuat terkejut ternyata Nasib Leluhur sama seperti 500 tahun yang lalu Di Kepruk Sunan Bonang, Apakah Karyono titisan Sunan? yang siap menghancurkan Hindu Masa kini? yang bisa menjawab tentunya Para Penonton, Mantan Prjabat waktu itu dan Karyono sendiri dan cs nya. Benar benar selama 500 tahun yang lalu islam jadi tukang Kepruk Candi, patung dll. Contoh Saptodarmo di Jogja Di Kepruk’i Orang berjubah masuk Trans TV, Jakarta Kafe, Biliard tak luput di Kepruk’i Orang berjubah atas nama islam juga selalu berulang ulang disiarkan TV, oh ya itu di Monas Kerukunan Ber Agama tak luput Gebukan Bambu sampai ada Gadis Bali Mrempul Kepalanya masuk TV, Belum yang tak ter siarkan. Lagi Masjit Ahmadiah dibakar/dihancurkan, ohya Gereja-Gereja di Jawa Timur-Jawa Barat tak luput dihancurkan dan dibakar. Ya inilah totonan Negri ini, yang konon Pancasila BINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DARMA MANGRUWA Jadi jaman Jahil liyah 1000 tahun yang lalu di Arab. Amit…Amit…Jabang Bayi, Ndang Lahiro Nak…Anak e Sabdopalon, Ngelakok no Karmane 500 tahu biyen. Pati saur Pati, Utang Barang nyaur Duwit, Utang Agomo yo nyaur Agomo. Gunung Bledos, Lindu, Banjir, Angin Agung,Alun minggah ing Daratan, Pageblug lan Jagat Royo di Obah ne. ben Molak Malek jamane.