SEJARAH PURA IBU MAJAPAHIT BALI


Peletakan batu pertama Hari Siwaratri Buda Cemeng Merakih 17 januari 2007 [tahun baru Imlek 2558] . Tumpek Wayang 24 maret 2007 menanam Prasasti dan simbul Surya Majapahit dipuncak Candi, juga Tombak Kekayon anti Petir. Pada Buda Kliwon Gumbreg Enyitan 23 mei 2008 Upaca ra Karya Memungkah, Ngenteg Linggih dipuput TRISADAKA {pendeta Siwa, pendeta Budha dan pendeta Bujangga} juga dihadiri Frop.DR. Subagiasta mewakili PHDI yang memberikan Darmawacana. Keturunan Majapahit Lintas Agama se Jagatraya.

Untuk pertamakalinya pada 15 juli 2008 up acara Ngalinggihan Dewi Kwan Im Tangan Seribu di gedong / klenteng oleh umat se Jagat. Ngaling gihan ditangani adat China [leluhur ibu dari China] diteruskan Odalan 16 juli 2008 [BudaGumbreg] inilah upacara terbesar dan pertamakalinya sejak 500 tahun keruntuhan Majapahit,di mana kluarga dari China menyaksikan Banten, Caru Majapahit bahkan Kagum dan heran dimana Uang Kepeng China masih digunakan. Juga Melasti [adat cina sama acara ke Nanhai laut selatan] yang ditutup upacara Nyegara Gunung. Juga Kirap ke GWK matur piuning pada Leluhur Airlangga, dii kuti semua keturunan Majapahit se Jagat apapapun Ismenya. Kenapa Dewi Kwan Im / Siwa Parwati Tangan Seribu dilinggihkan di Jimbaran? hal ini disebabkan Pura Majapahit Trowulan tempat Melinggih Beliau ditutup Muspika [skb no1/bern/1969].

Inilah sejarah nyata jadi Pura Ibu Majapahit bukan begitu saja datang ke Bali, tapi diundang para keturunan Majapahit yang suda tidak bisa upacara di Trowulan dikarenakan Trowulan dikuasai segelintir Arab yang bisa mengendalikan MUSPIKA R.I untuk menutup kegiatan Budaya asli jadi kita hanya bisa memaklumi bangsa kita sudah tidak mengenal budayanya sendiri, dan Tanah airnya yang subur makmur, tapi lebih mencintai budaya dan ngara arab.Padahal orang arab turunan jawa banyak yang datang ke Pura Majapahit ber Silaturahmi, tapi imam karyono[sekarang takmir] orang asli jawa malah atas nama islam menyerbu, ngebom, nyeret Mangku yang datang ke Pura Majapahit. ambil contoh Umar Alkatiri dengan keluarganya sering datang ke Pura Majapahit membawa masakan arab: Gulai, jajan, kurma dll. Kiyai Syuhuda Katami Pondok pesantren Moderen sering datang nyumbang tumpeng. Hardjono All Fatah {pesantren Sunan Derajat}juga sering datang nyumbang lukisan. dan banyak Kiyai berjenggot pakai jubah datang mengucapkan keprihatinan ditutupnya Pura Majapahit.

Bahkan Rektor Universitas Darul Ullum Jombang Gus Lukman sering datang Mahasiswa/siswinya Tumpengan {Sekarang Rektornya Gus Dur}. Mbah Gembal {LDII} juga datang mengucapkan prihatin. Pura Majapahit Trowulan adalah tempat Leluhur bukan Agama, jadi siapa manusiapun yang lahir dari Kemaluan manusia berhak datang kirim Tumpeng, sajen odalan dll. Kalau tempat Tuhan/Allah sudah banyak di Mesjit, Greja, Jagatnata dll. Bahkan didepan Pura Majapahit ada Musola kecil tempat tamu islam solat pada jam nya. sehabis sowan Leluhur. jadi penutupan ini aneh, Pura Pancasila dimana tiap agama bisa masuk untuk berdo’a Leluhur dan bisa menyatukan malah dilarang. Tapi maklum lagi adat Arab {islam} dengan Yahudi {kristen} tidak bisa rukun{perang terus}Indonesia yang Pancasila pun harus membela islam. Maklum Penggali Pancasila Bung Karno ditumpas Ajarannya dilarang, jadi kita ikut Adat Arab tidak kenal persatuan. contoh: orang lebih cinta arab negara kering yang hanya punya sumur satu [zam zam] dari pada tanah airnya yang subur makmur banyak air, padi, buah, rumput dll bisa tumbuh atau gemah ripah loh jinawa. Aneh tapi nyata, bukan dongeng. entah mimpi apa negara Pancasila politik bebas aktif menjadi negara arab.