PURA MAJAPAHIT TROWULAN


Posmo edisi 37 20-26 November 1999: Pura Majapahit berdiri dibekas Kerajaan Majapahit. Bangunannyapun bergaya “Majapahitan” Suasana Pura nampaknya memberi ketenangan tersendiri bagi umat Hindu. Seakan-akan hidup pada masa Zaman Raja Hayam Wuruk. Dilokasi Pura ini dulu pernah digunakan Bung Karno “Nyepi” untuk mencari gambar Partai yang baru didirikan.

BANGUNANNYA BERNUANSA MAJAPAHIT: Wilatiktapura begitu nama asli dari Pura Majapahit. Pura ini embrionya sudah ada sejak tahun 1940-an. Tapi bangunan fisiknya baru lengkap pada tahun 1997. Merupakan satu satunya Pura yang ada di Kabupaten Mojokerto. Letaknya di lingkungan bekas Kerajaan Majapahit. Persisnya dipinggir jalan menuju makam Putri Campa, depan Banyu Segaran. Bangunan Pura terbagi menjadi tiga ruangan, Ruangan utama, ruangan madya dan ruangan nista. Ruangan utama [tempat Leluhur]digunakan untuk sembahyang Keluarga besar Majapahit, ditempat ini mereka dengan khidmat melakukan pemujaan, mengingat suasananya hening dan asri. Ruangan madya digunakan untuk belajar agama bagi anak-anak remaja dan orang tua, juga digunakan untuk berdiskusi, dengan harapan agar wawasannya makin luas. Siapa gurunya? orang yang memberi pelajaran agama Hindu[istilah sekarang] adalah Pandito Eyang Surya yang merupakan keturunan pendiri kerajaan Majapahit. Ruangan nista digunakan untuk menerima tamu yang datang dari dalam kota, seperti Mojokerto, Surabaya, Bali dan Jakarta. Bahkan akhir akhir ini Touris dari berbagai penjuru dunia berdatangan. Menyempatkan diri melihat dari dekat Pura Majapahit yang didirikan Pandito Eyang Suryo itu.

Banyak touris yang mengaku kagum melihat keberadaan pura itu. sebab masih menyisakan nuansa zaman kerajaan Majapahit. Pikiran mereka jauh membayangkan hidup pada zaman Gajah Mada yang mempersatukan Nusantara. Mereka baru sadar setelah keluar dari dalam pura. Memang bangunan ini saya buat sedemikan rupa sebagai bangunan yang ada zaman Majapahit, ujar Pandito Eyang Surya, pemilik pura majapahit itu. TEMPAT NYEPI: Nuansa hidup pada zaman Majapahit itu bukan hanya disukai orang-orang yang sekarang biasa bermeditasi. Tapi juga orang-orang zaman dalu. ketika itu pura Majapahit belum dibangun. tujuan utamanya digunakan tempat meditasi. Salah satu orang terkenal yang pernah meditasi adalah Bung Karno, ketika itu belum menjadi Presiden dan masih suka nyepi. pada saat pukul 02.00 tengah malam menemui keanehan yang tidak biasanya ditemui ditempat lain. Tiba tiba melihat sinar jatuh dari atas langit dengan suara keras Gedebug, lantas sinar itu pun meredup . Setelah dilihat ternyata Kepala Banteng yang terbuat dari batu. Bung Karno mulanya kaget bukan kepalang. karena sinar yang terang itu berubah menjadi kepala banteng yang nyaris mengenai kepalanya. kemudian dipikir-pikir apa maksud dari perlambang itu. Ternyata merupakan ilham baginya untuk memberi gambar partai yang didirikan dengan gambar kepala Banteng[kini kepala banteng itu di musium Jakarta]. Keberhasilan Bung Karno itu menjadi inspirasi bagi orang-orang untuk melakukan meditasi. mereka mengakui kalau didalam pura majapahit itu masih menyisakan hal-hal yang gaib. Buktinya baru-baru ini seseorang yang berada diruang utama pada siang hari terkena sambaran petir. untung saja petir itu mengenai pohon, dan pohonnya tidak mati. “Orang Tionghoa menilai yang menyambar orang yang sedang melakukan meditasi bukanlah petir. tapi ular naga yang mencoba menyerang. ujar Pendeto Eyang Suryo sambil menunjukkan pohon yang terbelah disambar petir.[husnu mufid] dilanjutkan: POSMO edisi 39 4-10 Desember 1999 :EYANG SURYO PANDITO PURA MAJAPAHIT : Penampilannya sedikit nyeleneh. Rambutnya gondrong, itulah sosok Pandito Eyang Suryo yang memangku Pura Majapahit Trowulan. Bila dibandingkan dengan Pendeta Hindu di pulau Bali, memang sedikit berbeda. Dia sangat dekat dengan umatnya[tidak pernah menjaga jarak]. Keramahannya membuat umat hindu sulit melupakannya. Memberikan pertolongan orang disekitar yang membutuhkan uluran tangannya. semasa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu dipenjuru tanah air, hingga ke negri Cina. Semasa kecil hingga remaja Eyang Surya tinggal di pulau Bali bersama ibunya, DI pulau Dewata itulah berbagai ilmu ia pelajari. Ratusan lontar dibaca dengan bimbingan Betara Agung Gede di Penglingsir puri. Dengan demikian tidak ada waktu enak-enakan, apalagi berhura-hura layaknya anak-anak yang suka bermain-main. Ketika masih kanak-kanak pun ilmu agama Hindu yang dimiliki cukup tinggi, hal ini ini bisa dilihat dari tingkah lakunya yang mencerminkan agama yang dianut { sebenarnya waktu itu 1956 agama hindu belum lahir disebut Hindu karena ditulis masa kini Hindu lahir 1961} Sikap itu menjadikan Gurunya{pendeta Majapahit} senang. Maka ilmunya ditambah terus sebagai layaknya orang dewasa.”Saya waktu itu belajar agama hindu[ilmu Majapahit] dengan bimbingan seorang pendeta ternama dan disegani, ilmu yang saya peroleh cukup banyak darinya, karena diberi ilmu secara terus menerus, baik dalam bentuk teori maupun contoh” ujar Eyang Surya yang mengaku lahir di kabupaten Mojokerto beberapa puluh tahun yang lalu. Namun ilmu yang didapat itu masih dirasa kurang lengkap, Oleh sebab itu ketika menginjak dewasa melakukan pengembaraan ditanah jawa. Tujuannya berburu ilmu yang selama ini belum didapat. Tempat tempat yang dituju yang keramat-keramat[angker] di berbagai petilasan yang ada kaitannya dengan kerajaan masa silam. khususnya Majapahit, Dalam perburuan ilmu Eyang Surya tidak mengenal rasa takut menghadapi gangguan dari mahluk halus[para Leluhur dan ancangannya] yang menghuni tempat keramat, malahan mahluk halus itu[berupa Roh] memberi keamanan pada dirinya, Sehingga ilmu yang didapat makin banyak dan dapat dipraktekkan kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian tidak membuat hati Eyang Surya berpuas diri akan ilmu yang dimilikinya, tetapi masih merasa kurang, untuk itu perburuan mencari ilmu dilanjutkan kembali, Negara yang dituju adalah Cina[tempat Leluhur Putri] banyak sekali ilmu yang didapat di negri tersebut, Karena bukan hanya ilmu Agama saja, melainkan diluar ilmu agamapun didapat. Seperti ilmu kemasyarakatan[sejarah Leluhur] MENDIRIKAN PURA / PURO : Setelah ilmu yang dimiliki sudah dirasa cukup. Dia pulang kembali ke desa Trowulan {tempat Leluhurnya} ,Mojokerto mendirikan sebuah pura {rumah/ Pura contoh Pura Mangkunedaran solo, karena Eyang Suryo belum punya tempat menetap} dicarilah tempat yang paling cocok. Tanah yang dipilih sebelah utara banyu segaran bekas waduk kerajaan Majapoahit. karena tanah itu dahulunya tempat tinggal Pendeta Brahma {Leluhurnya} yang kesohor zaman Raja Hayam Wuruk. namun usahanya sempat terhalang oleh kepala desa Trowulan dengan dalih macam-macam, hingga sempat berhenti beberapa bulan, tapi bagi Eyang Suryo halangan itu bukan kendala yang besar. oleh sebab itu ia terus melakukan perjuangan dengan berbagai kiat agar niatnya itu terwujut dengan bantuan seorang pengacara. Tidak beberapa lama usahanya berhasil karena kepala desa mengijinkan, Eyang Suryo mendirikan Puro dengan nama Pura Majapahit, yang lebih dikenal Wilatiktapura {rumah nya Wilatikta}. dengan didirikannya pura Eyang Suryo dapat mengamalkan ilmunya[melinggihkan Leluhur] yang selama ini didapat dari Bali dan hasil pengembaraannya selama ini didapatnya. Kini Pura itu banyak dikunjungi Umat Hindu[para keturunan Majapahit] untuk mengadakan upacara-upacara keagamaan, seperti purnama, tilem, pager wesi, kuningan dll. upacara dapat dilaksanakan dengan sukses dibawah pimpinan Eyang Suryo. Selain itu orang-orang Touris dari mancanegara dan bintang film juga banyak berdatangan melihat kondisi pura dari dekat [maklum kawan-kawan lama]. mereka banyak yang merasa kagum atas arsitektur bangunan pura yang menyerupai zaman Majapahit. karena banyaknya orang yang datang, Eyang Suryo lebih banyak tinggal dirumah[dahulu keluyuran terus susah ditemui] “saya sehari-hari ada dirumah, ya begini ini kebiasaan seorang pandito, karena harus melayani umat yang membutuhkan pertolongan{minta restu Leluhur yang sudah Melinggih, sebelumnya Leluhur tidak punya Pelinggih/Candi, karena agama islam tidak memuja Leluhur, diluar Candi sudah tidak diupacarai, banyak yang hancur}dan memimpin persembahyangan” ungkapnya. [husnu mufid]. Demikianlah informasi kutipan dari POSMO th. 1999.