PURA IBU MAJAPAHIT JIMBARAN ODALAN



INFORMASI:

Suatu malam datang ke Pura Ibu Majapahit Puri Gading Jimbaran, Beliau Anak Agung Ngurah Darmaputra SH dari Puri Ukiran, Beliau bercerita pernah bersama Hyang Suryo di Besakih, Jaman dahulu Hyang Suryo sering mengunjungi Pelinggih Ratu Mas dan Brahma Wisesa , yaitu Leluhur Kawitannya Hyang Suryo, Seorang Mangku menunjukkan Uang Kepeng terikat dilehernya, dan mengatakan saya orang Majapahit, ini buktinya, sambil menunjukkan uang kepeng yang sedikit besar dari umumnya. “Kalau orang Majapahit mesti punya simbul ini” Hyang Suryo tertegun dan berkata “ooo ya?” tiba2 “Klonteng” ada benda jatuh’ lalu Hyang Suryo teriak “Lhoh apa itu jatuh?” Mangku dan saya melihat benda yang jatuh, ternyata uang Kepeng sebesar piring kopi, kontan kami keheranan.
Akhirnya Mangku Besakih mengakui kalau Hyang Suryo orang Majapahit. Uang Kepeng itu di Sungsung di Besakih. Saya melihat dengan mata kepala sendiri ucap A.A. ng. Darmaputra SH. lagi, Dalam semalam pada hari raya Galungan saya, Ibu Nanik, Fransiska, Sopir, dalam semalam bisa mengunjungi Pura Kayangan Jagat. Pertama di Pura Lempuyangluhur disana aneh biasany ada Mangku, tapi waktu itu kosong dan Tirta sudah tersedia, terus turun ke Besakih, kosong tidak ada Mangku Pretima dibawah tidak salah ada tiga Dewa warna Merah, Putih, Hitam. habis nunas Tirta Turun menuju Ulundanu, sem pat kesasar tidur dimobil sebentar di Bebandem. Tiba di Ulun Danu Bawah, juga tidak ada mangku, setelah beberapa lama Matahari terbit. Hal ini sangat aneh Galungan kok tidak ada orang.

Ternyata semua dialam Niskala jadi saling tidak melihat. Kami tidak bisa melihat sekala, jadi tidak ada Mangku dan Pengunjung karena Alamnya lain, Pengalaman ini saya alami benar2 dan sadar, setelah dipikir tidak masuk akal melihat jalan nya yang begitu sulit. apa jawab Hyang Suryo ” Orang Dahulu itu Sakti2 kalau kita dibantu bisa saja, dulu bikin seribu candi semalam, ini kan cuman jalan2″. Dan masih banyak cerita aneh dari Darmaputra yang pernah mendampingi Hyang Suryo, Pendengar cerita ini cukup banyak, diantaranya Mangku Noko Prawiro [diceritakan kembali oleh Gde Susila] 2-9-’09.