PERCAKAPAN TENTANG KASUNYATAN TERJADI


Pada hari ini, kawula mendapatkan bukti kasunyatan lagi tentang Majapahit baik yang ilmiah (bisa dinalar dengan akal sehat dan waras) juga tidak ilmiah, tidak masuk akal tetapi kejadiannya nyata (mungkin yang punya akal diatas normal yang bisa menelaahnya atau akal bodo, jujur dan ngedan serta sakit menurut yang waras katanya). Majapahit itu tidak kemana-mana dan masih ada, hanya situasi dan kondisi sajalah yang berubah tapi taksu/kekuatan masih ada di bumi Nusantara. Majapahit hampir terlupakan karena itu yang diinginkan para penjajah. Sejarah Majapahit Nusantara dihapuskan, sehingga tidak ada yang membanggakan. Majapahit adalah benua yang hilang diteliti oleh para ilmuwan. Janji leluhur Majapahit hanya dianggap ramalan. Tapi setelah limaratus tahun HYANG SABDA PALON menepatinya.

Siang itu langit begitu cerah, di Candi Ibu Majapahit sekaligus Keraton Majapahit Mbali kedatangan anak bangsa bernama : Soerya Soekarnopoetra menyerahkan Gada Limpoeng Aloegoro kepada Goesti Poetoe Soerya untuk dilinggihkan dengan dicor permanen dipuncak segi delapan Stana Leluhur Ibu Majapahit.

Raja Majapahit ke-9 :

Hyang Bathara MajapahitKori Agung sudah selesai bernama gerbang gapura “Wijaya Kusuma” disusul selesai juga Candi avalokitesvara(Avalokitesvarapura) untuk leluhur Ibu Majapahit, juga Candi Gayatri (Gayatripura) yang didalam Kitab Negara Kerthagama masih akan dibangun tapi keburu dihancurkan oleh dajjal berwajah sama dengan kowe yakni di Boyolangu dekat Pura Majapahit Jenggala masuk wilayah Kabupaten Tulung Agung propinsi Jawa Timur. Sekarang sudah lengkap dan sempurna kembalinya leluhur Majapahit untuk mensejahterakan kawulanya yang mau.

Kawula menjawab :

“Inggih Hyang” !. (mudah-mudahan kepanggih, biasanya kan inggih-inggih mboten kepanggih, sambil berbicara dalam hati)

Raja Majapahit ke-9 :

“Gada Limpung Alugoro dan Surya Majapahit dipasang hujan turun terus menerus padahal sekitar Keraton/Pura tidak ada hujan ini sangat aneh tapi kasunyatan dan terjadi”. Roh Bung Karno menangis melihat situasi Negara yang didirikannya terpuruk. Rakyat jadi bangsa budak diantara budak karena dibodohkan dan memang nasibnya yang dibuat sendiri. Ironis !.

Kawula menjawab :

Mpu-Blontang“Inggih Hyang” !. (Sambil otak saya berpikir mumpung dikasih pikiran gratis, benar tiap hari media-media memberitakan rakyat ini yang katanya “Pahlawan Devisa” kasunyatannya hanya menjadi budak dinegeri lain, disiksa dan akhirnya ada yang tewas. Saya juga berfikir katanya nusantara ini kaya-raya akan hasil alam. Tapi, kog ada berita rakyat kita berbondong-bondong ingin keluar negeri ini untuk merubah nasibnya. Inilah trik Dajjal yang ingin mengusir rakyat ini yang bodoh untuk bisa terus setor kenegerinya. Hingga mereka terus bisa menjajah negeri yang kaya dan indah ini). Tapi ya.. memang dasar kempel !!.

Raja Majapahit ke-9 :

Gada ini apabila dipakai sama leluhur nggebuk gunung…ambyar banjir lahar, watu (batu), endut (lumpur). Menghantam laut bisa ambyar (membuat) ombak besar ke daratan. Menghantam bumi menciptakan gempa 7 kali sehari. Menghantam orang bisa mrotoli. Itulah yang akan terjadi.

Kawula merenung:

Dengan perasaan ngeri…kawula menyaksikan langsung apa yang di sabdakan oleh Hyang Bathara Agung, Di Klaten Gada berupa spur (kereta-api) menghantam bis “memrotoli” orang-orang yang ada didalamnya. Truck lawan pikep dan masih banyak lagi. Poko`e sampyan lihat sendirilah. Bisa diberita TV atau koran. Dan sampai detik ini masih ada saja yang menjadi amukan Gada ini…(lihat dan baca Ramalan Hyang Sabda Palon) inilah tanda kembalinya Majapahit secara ilmiah dan gaib. Untuk anda yang punya spiritual tingkat tinggi, resapi dan renungkan apa yang terjadi disekiling anda. Yang bodoh, jangan bawel dan terima nasib sambil berusaha untuk mendapat ampunan-Nya.

Raja Majapahit ke-9 berkata lagi :

Gada Limpoeng Aloegoro masuk dalam pidato Bung Karno sebagai pusaka andalan Majapahit untuk menyatukan Nusantara, hari ini bertengger dipuncak Candi Avalokitesvara simbol Sabda Palon menggebuk lawan dan pengikutnya yakni para dajjal arab, Brotoseno (Bima) juga bersenjatakan Gada. Gajah Mada juga bersenjatakan “Gada”…patungnya juga memegang Gada…Haaiiyaaat…Bruooog !. Ajur wis !. Gak iso ditulung maneh.

Kawula diam seribu bahasa hanya berfikir :

Ya…semuanya telah “niti wancinye” sudah saatnya sesuai dengan Ramalan setelah 500 tahun Nusantara dikuasai para dajjal dengan menjarah akhirnya harus berakhir ditandai dengan Tanda-tanda alam. Believe or not.

Hyang Bathara Raja paham dengan kegalauan akhirnya berkata :

Yaa..kalau ramalan tidak ada bukti, nanti Majapahit dikira “mbujuk”. Spur njung kling didekatnya rumahnya Sabda Palon di klaten. korban dijejer ndek rumah sakit islam Klaten. Menghadiri kawinan dan pengajian ditabrak godo rupo sepur, tewas. Ironis dan na`as. Gae nggeppuk geni kobongan (kebakaran). Gak peduli enom tuwa, wedok lanang diantem Godo ne Buyut Sabda Palon. “Ben Ngerti kowe” !. Nek gak ono kejadian nanti dikiro mbujuk, dikiro Ramalan mbujuk, dikiro Mojopahit mbujuk. delok en kasunyatan alam iki. Itulah tanda-tanda datangnya Sabdo palon. Wocoen maneh RAMALAN SABDA PALON ben nglontok utekmu. Pikiren mumpung utekmu durung edan !. Delok en mumpung matamu rung picek !. Ini semua hanyalah tanda, spur, truck dan lainnya iki wis mlebu ramalan mung gawe tanda saja. Gada iki cuma simbul, Kalau gak ada simbul le kurang manteb. Tapi iki gak nyangka, kebetulan dan kasunyatan.

Kawulo menjawab :

Inggih Hyang !. Matur Nuwun Hyang !..Berarti masih bisa berpikir dan melihat kalau buta dan edan bagaimana bisa berfikir (apalagi ya yang akan terjadi…sambil berkata sendiri dalam hati)

Kawula mengajukan pertanyaan lagi tentang hal lain :

Hyang…Tulisan di google tentang pembahasan yang terjadi masa Majapahit dirusak oleh para sunan dan santrinya yang berhati Dajjal membikin ketakutan..pada diri mereka. Bagaimana Majapahit yang begitu hebat sejarahnya bisa “disinepkan” oleh para dajjal hingga kawula sekarang tidak bangga dan tahu sejarah kejayaan Nusantara. Malah membanggakan padang pasir. Simbol Jawa sudah diarabisasi. Leluhur dianggap hantu. Candi dianggap tempat musyrik. Padahal diarab sana atau ditempat lainnya juga candi/bangunan atau apalah namanya adalah sebuah peninggalan leluhurnya. Tapi waktu kita mau datang ketempat keleuhur kita sendiri malah dilarang dan dsesatkan oleh Dajjal. Dos pundi puniki Hyang ?.

Hyang menjawab :

Ha…ha…hwa….hwaaaaa…haaa…haaakk…hhhwaaakkk (sambil tertawa). Baru Bukune Tan Khoen Swie wis wedi. Durung liyane…kitab Mojopahit liyane…senjata Mojopahit liyane. Apalagi sekarang dajjal habis masa kontrakannya. Tapi apa ya…betul ngontrak mereka…malah njarah. Tukang ngrusak candi (23 Januari 2008 bukti terkini, Dajjal menggerakan massa merusak pura diTrowulan dekat candi tikus/petirtan itupun bebas lenggang kangkung apalagi dulu pas waktu ngrusak, mangkane ditumpes karo leluhur), tapi ngeles Candi rusak karena bencana alam Wong Jowo dianggep Tai sama mereka. Ajaran asline dicap kuno. Kitab-kitab pe di bong kabeh sampai gak tersisa. Untung Londo selamatkan bukune Tan Khoen Swie.

Kawula menjawab dalam hati :

Makanya Tulisan Jowo dan Cina dulu dilarang harus belajar tulisan arab, sampai sekarang. Kitab Sutasoma (Pancasila) tidak dibanggakan lagi, ada yang tidak tahu artinya atau biar terus bodo orang jawa dan kempel-kempel, dimata dajjal wong jowo dianggap kumpulan tai. Belum muslim, kafir dan lain sebagainya. Disiksa dan dibantai serta dikucilkan. Jelas mereka ketakutan akhirnya dengan terpaksa mengikuti mereka. Tapi tak mampu sedikitpun melaksanakan ajaran dari bumi panas tersebut (Bagi yang mampu bersyukurlah bisa lancong kesana, tanpa pedulikan saudaranya yang kere disekitarnya yang penting bisa datang dan masuk sorga bersujud dibumi jahilliyah, setelah itu kembali ke Nusantara tanpa berterima kasih dengan ibu pertiwi, tanpa “menyuguhi” untuk leluhur akhirnya terjadi hantaman Gada dari leluhur dan ketumpes…..karena dulu pernah numpes kawulo Mojopahit, sesuai dengan hukum alam, “nandur metik” atau kalau pingin bebas dari cemoohan orang atau punya masalah dicap kafir dan lain sebagainya yang supaya dianggap orang paling bertobat dan sadar (tapi HAK ASASI juga) silahkan lancong saja ke arab dengan alasan umroh atau apalah, pulang pasti dicap orang bebas dari dosa atau dapat ketenangan terserah. Silahkan menipu saudaranya, tapi tetep akan ketumpes juga oleh alam…(saudara paman saya sendiri mengalaminya, haji 12 kali pengasuh pesantren lagi juga ketumpes tapi ditenangkan pasti dapat surga, saya jawab, “Suwargo mbah e sangkil, ndasmu pethal iku”!). Pada berita penumpesan itu ada anak masih kecil bercita-cita jadi syech dan naik haji tapi ketumpes duluan di Klaten lewat sepur Prambanan Express. Orang duduk-duduk santai disambar gada berupa kereta api. Ck…ck….ck kog bisa ya…gak masuk akal. Tapi terjadi. “Becik ketitik olo ketoro”.

(Bersambung)