MENUNGGU KEAJAIBAN MAHKOTA MAJAPAHIT


MahkotaRaja Majapahit yang tidak jelas juntrungnya selama ratusan tahun, tiba-tiba dikembalikan ke Indonesia. Hal ini konon merupakan pertanda kembalinya kejayaan Majapahit sesuai ramalan Sabdopalon. Tetapi beberapa pihak memprediksi lain. (Liberty Januari 2009)

Majapahit seperti ditelan bumi Hancurnya kerajaan besar ‘Nusantara tersebut seperti tak berbekas sama sekali. Hanya sejarah dan berbagai ramalan yang masih tersisa, sementara peninggalan bekas kerajaan yang pernah tersohor di dunia ini masih samar-samar. Jangankan harta benda, bekas keraton dan lokasi kerajaan juga belum
jelas, dimana letaknya. (sebenarnya letaknya sudah di ketahui tetapi
supaya peninggalan itu utuh dan tidak di hancurkan oleh oknum/kelompok
yang tidak men
ginginkan Majapahit berjaya kembali terutama bangsa Pedagang Gujarat Arab yang membawa perdagangan Islamnya, Red)

Setelah 500 tahun lenyap tak berbekas, belakangan ada upaya untuk merekonstruksi peninggalan ker­ajaan tersebut. Bukti-bukti sejarah dan peninggalan Majapahit dikumpulkan, dan pencarian lokasi kerajaan dilakukan, berharap kejayaan Majapahit kembali bersinar di Indonesia sebagai kerajaan yang disegani dunia.

Di tengah upaya pengumpulan bukti-bukti sejarah dan peninggalan Kerajaan Majapahit, terdengar khabar yang cukup menghebohkan. Pada tanggal 30 Mei 2008, mahkhota Raja Majapahit dikembalikan ke Nusantara. Makhota tersebut diberikan kepada yang berhak, sebagai keturunan langsung Raja Majapahit. Kini Makhota tersebut berada di tangan Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI sebagai Raja Abhiseka Majapahit Masa Kini. Makhota kerajaan Majapahit ter­sebut disimpan di Puri Surya Maja­pahit, di Perum Puri Gading, Banjar Bhuwana Gubuk, Jimbaran, Bali.

Menurut Sri Wilatikta Brahmaraja XI yang juga pendiri Puri Majapahit, setelah berakhirnya kerajaan Demak, mahkhota tersebut dijual ke kolektor. Khabar terakhir mahkota tersebut dikoleksi salah seorang kolektor Singapura. Namun sebuah keanehan terjadi.

Museum tempat menyimpan mahkota tersebut di Singapura digoyang, dan silih berganti karyawan museum alami trans. Orang-orang yang kesuru­pan itu meminta makhota itu dikembalikan ke tempat asalnya yaitu kerajaan Majapahit. “Tolong kembalikan ke keturunan saya,” demikian dituturkan Sri Wilatikta Brahmaraja XI, yang mengaku sebagai garis keturunan raja Majapahit.(Ada bukti ilmiah secara tertulis dan ada ramalan ”pengangkatan tanpa surat sedawir”red). Way Ching Lee, salah seorang warga Singapura yang juga tercatat sebagai keturunan langsung Raja Tumasik, bekas wilayah ker­ajaan Majapahit. Way Ching Lee berinisiatif mencari pemilik yang sah. Didukung para dermawan dari Bangkok, Siam, Thailand, Singapura, Cina, dan Australia, mahkhota tersebut ditebus dari tangan kolektor untuk dikembalikan ke kerajaan Majapahit.

Lalu dimana Majapahit? Penerus Majapahit memang tidak jelas, tetapi salah satu daerah di wilayah nusantara yang masih bercirikan Majapahit baik dari adat, tradisi dan budayanya adalah Bali. Karena itu makhota terse­but diarahkan ke Bali.

Mahkhota dikirim ke Ubud, karena puri ini cukup dikenal di mancanegara

Yang dituju adalah salah seorang keluarga Puri Ubud bernama Cok Agung Kertiyasa alias Cok Ibah. Way Cing Lee beranggapan Puri Ubud ada­lah salah satu puri bekas Majapahit. Namun pihak Puri Ubud tidak berani melangkahi kewenangan, karena bu­kan keturunan langsung Raja Majapa­hit. Puri Ubud adalah salah satu keturunan pemegang kekuasaan Kerajaan Bali, sebagai bawahan Kerajaan Maja­pahit setingkat Gubemur Bali. Karena itu, keluarga Puri Ubud tidak berani menerima, kemudian ikut menelisik jejak orang yang berhak atas makhota tersebut.

Entah bagaimana ceritanya, mahkota tersebut diarahkan ke Puri Surya Majapahit, di Jimbaran, Bali yang baru dibangun atas prakarsa Hyang Suryo yang telah abhiseka raja sebagai Sri Wilatikta Brahmaraja XI. Puri inilah sebagai tempat pemujaan leluhur Raja Majapahit dan para dewa Ciwa-Budha yang dipuja pada masa kerajaan Majapahit.

MEMBESAR MENGECIL


Makhota itu tidak serta merta diterima, karena khawatir bukan orang yang berhak. Termasuk Sri Wilatikta Brahmaraja XI yang disebut-sebut sebagai keturunan langsung Raja Majapahit, tidak berani mengklaim sebagai orang yang pantas mengenakan makhota tersebut Seperti mendapat wangsit dari leluhur, sebuah solusi akhirnya tercetus. Makhota tersebut dicobakan ke beberapa orang yang bergelar bangsawan dan rohaniwan. Mereka yakin, makhota ini memiliki tuah gaib, jadi tidak sembarang bisa dikenakan kepa­da orang yang tidak berhak. Kalau tidak pas, pasti ada efek atau pertanda yang ditunjukkan secara gaib.

Pertama, makhota tersebut dike­nakan kepada Dewa Agung Putranata,

Barangkali saja, para leluhur Majapahit berkehendak lain, sebagai keturunan Raja Bali Mula. Putranata memiliki postur tubuh sedang, seperti orang Indonesia kebanyakan sehingga diperkirakan pas dengan ukuran para raja zaman Majapahit.

Namun dugaan itu meleset, karena ternyata makhota tersebut kekecilan. Makhota tidak bisa masuk, dan terasa menjepit kepala. Buru-buru makhota itu dilepas dari kepalanya, karena Putranata merasa ada sebuah kekuatan yang menolak untuk dikenakan di kepalanya.

Belum mendapat kepala yang pas, akhirnya makhota itu dicobakan kepa­da Marchus dan Michael. Kendati dua rohaniwan asal Australia ini memiliki ukuran kepala lebih besar dari ukuran orang Indonesia, barangkali saja para leluhur Majapahit berkehendak lain. Namun ketika dikenakan, ternyata kedodoran. Makhota itu masuk hingga menutupi mata. Orang-orang yang menyaksikan hal itu, terperangah tidak percaya.

Secara logika, mana mungkin orang yang berpostur tubuh lebih besar memi­liki ukuran kepala lebih kecil.

Keturunan Raja Tumasik, Singapura memasang makhota Majapahit kepada Sri Wilatikta Brahmaraja XI. Terharu dan kesurupan setelah makhota dipasang (bawah).

Jika dibanding dengan Dewa Agung Putranata, ukuran kepala Marchus dan Michael lebih besar, yang berarti makho­ta tersebut seharusnya kekecilan. Namun malah sebaliknya kedodoran.

Semua orang yang menghadiri uji coba pewaris makhota yakin makhota tersebut bukan sembarangan, tetapi memiliki kekuatan gaib para leluhur.. Berawal dari sana, akhirnya perhatian beralih kepada Sri Wilatikta Brahmara­ja XI yang disebut-sebut sebagai keturunan Raja Majapahit. Orang yang dinobatkan sebagai Raja Majapahit IX ini pun diminta mencoba makhota tersebut.

Di hadapan para utusan negara donatur yang menebus makhota terse­but dari tangan kolektor, Hyang Bhatoro Agung Surya Wilatikta atau Raja Abhiseka Majapahit dengan gelar Brahmaraja XI mencoba makhota. Ternyata makhota tersebut pas di kepalanya.

Bersamaan dengan itu, terjadi sebuah keganjilan. Langit yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Hujan disertai kilat sambar-menyambar dan gemuruh angin seolah menjadi pertanda penobatan kepada pewaris sah makhota tersebut. Kejadian ini juga ditandai dengan munculnya sinar berwarna keemasan dari langit, mengarah ke Puri Surya Majapahit di bilangan perumahan Puri Gading, Jimbaran.

PERTANDA KEBANGKITAN!

Akankah kemunculan makhota ini akan membangkitkan kejayaan Maja­pahit yang pernah disegani kerajaan di seantero dunia? Lima ratus tahun sudah berlalu sejak jatuhnya Kerajaan Majapahit.

Sesuai ramalan Sabdopalon dan Noyogenggong, seperti dituturkan Sri Wilatikta Brahmaraja XI, sudah saatnya kejayaan Majapahit bangkit. Per­tanda ke arah itu juga sudah mulai tampak. la menyitir ramalan Sabdopa-lon dan Noyogenggong yang berbunyi, “Wereng katah angdatengi, angin agung anggergisi. Alun munggah ring daratan.”

Ramalan itu, katanya, sudah menunjukkan buktinya. Para petani kehabisan akal karena hama dan penyakit menyerang tanaman mereka. Belum lagi kelangkaan pupuk yang berujung pada gagalnya musim tanam para petani.

Selain itu berbagai pertanda alam juga sudah tampak, seperti banjir bandang, gempa bumi, dan pageblug. Demikian juga air laut sudah menerjang daratan sebagai bukti kebangkitan Majapahit telah dimulai.

Abhiseka keparabon sebagai Sri Wilatikta Brahmaraja XI bukan tanpa alasan yang jelas bahwa dirinya mendapat mandat untuk membangun kejayaan Majapahit. la melakukannya karena petunjuk gaib, di samping silsilah keluarga sebagai keturunan langsung dari Sri Brahmaraja I. “Semua berdasarkan bukti ilmiah, bukan rekayasa,” akunya.

Bukti-bukti itu didasarkan bebera-pa kenyataan. la mencontoh, saat KTT pemanasan Global yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Amerika tidak mau menandatangani kesepakatan. “Utusan
negara adidaya itu saya ajak melakukan ritual memuja Dewa Wisnu di.
GWK. Keesokan harinya, ia langsung tanda tangani kesepakatan. Kemudian
setelah itu saya ditelepon para utusan dunia,” kenangnya.

“Saya juga masih berpegang pada. ajaran Siwa Budha sesuai kepercayaan yang dianut para leluhur Majapahit yang telah dilupakan orang lain. Selain itu, saya juga sudah mem-buktikan bahwa saya bisa menyatukan semua agama dalam tradisi Majapahit (ada dokumen otentik). Hingga saat ini saya berjuang terus untuk menyatukan dan menciptakan perdamaian dunia, termasuk membersihkan dunia dari kekotoran,” jelasnya memberi bukti bahwa dirinya merupakan utusan leluhur Majapahit

Bukti ilmiah lainnya adalah serat Sabdopalon dan Noyogenggong yang menyebutkan, jikalau suatu saat nanti ada orang Jawa yang memakai nama tua dengan senjata ilmu kaweruh, itulah yang dipilih (diemong) Sabdopalon.

Orang Jawa yang tidak mengerti Jawanya, akan diajari untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Menurutnya, bukti-bukti itu me­ngarah kepadanya karena selama ini banyak orang memanggilnya dengan sebutan Hyang tetapi lebih sering di singkat ”Eyang” yang berarti dituakan.

Dan yang paling otentik adalah makhota kerajaan Majapahit yang pas dikenakan di kepalanya sebagai per­tanda bahwa dirinya adalah trah Majapahit yang ditugaskan memban­gun kejayaan Majapahit.
(Tidak ada tujuan lain selain membawa kawula Majapahit untuk lebih
mencintai Tanah Airnya serta Budaya dan adatnya serta ritualnya yang
akan di hapuskan secara perlahan oleh bangsa Arab supaya terus setor
kekayaan ke Negeri Padang pasir). Kasunyatan Lihat Televisi, koran dan
lainnya, Sadarlah !!.

la percaya, setelah dirinya dino­batkan sebagai Sri Wilatikta Brahma­raja XI, Sabdopalon akan segera muncul untuk menjadi penasihatnya. Dan sekarang sudah jalan, “Sete­lah saya muncul sebagai raja Maja­pahit, Sabdopalon pasti bergerak kare­na abhiseka saya sebagai symbol. Mana mungkin ada penasihat kalau tidak ada rajanya,” akunya yakin.

la pun mengaku sering kontak den­gan dunia leluhur, termasuk dengan Sabdopalon. “Bidang niskala (gaib), saya sudah 50 persen ada di dalamnya, saya juga kontak dengan Sabdo­palon,” akunya.

YAKIN ASLI !

Berdasarkan teropong gaibnya dan bukti-bukti ilmiah yang ditunjukkan, ia yakin bahwa makhota terse­but asli milik Raja Majapahit. Makhota.terbuat dari emas bertatahkan permata yang nilainya mencapai milyaran rupiah.

Menurut hasil penelitian para ahli, makhota tersebut berumur ratusan tahun, bukan buatan baru karena bentuk, model tatanannya dan bahannya khas Majapahit. “Untuk apa para donatur luar negeri urunan dana mengembalikan makhota tersebut ke pemiliknya. Kalau hanya mencari sensasi, rasanya mustahil,” akunya. Namun tidak diketahui, pada zaman raja siapa makhota tersebut dibuat. Apakah prabu Hayam Wuruk, atau generasi sebelumnya.

Makhota juga menunjukkan bukti-bukti kegaiban. Di Singapura sempat menggemparkan museum karena karyawan museum silih berganti kesu-rupan. Makhota itu memilih kepala sendiri yang dianggap cocok sebagai tuannya. Selain itu juga ditandai dengan berbagai kejadian aneh seperti angin gemuruh, halilintar dan sinar keemasan pada saat makhota dike-nalan Sri Wilatikta Brahmaraja XI.

Dan setelah menerima makhota tersebut, Sri Wilatikta Brahmaraja XI mengaku pikirannya menjadi terang dan cemerlang. Berbagai konsep untuk kejayaan Nusantara dan perdamaian dunia tiba-tiba muncul, menjadi pemikirannya. Anehnya lagi, ia dipercaya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dunia, termasuk sering dihubungi para pembesar dunia. Seperti saat KTT pemanasan global, ia berhasil membujuk Amerika menandatangani kesepakatan. Padahal, juru lobi dunia tidak berhasil membujuknya.

TIGA PERMATA

Ada sebuah keganjilan yang terli-hat dari makhota tersebut. Tiga buah permata sebagai hiasan, hilang seper­ti sengaja dicongkel. Menurut Sri Wilatikta Brahmaraja XI, tiga permata tersebut dicongkel dan dijual para kolektor yang sempat memegangnya. Satu permata rubi konon berada di Amerika, satu buah permata blue dia­mond (safir) dibeli orang Inggris, sedangkan satu permata jambrud diboyong kolektor Hongkong. Pihak Singapura yang diwakili Way Ching Lee bersama para donatur mancanegara berjanji menebus permata terse­but
untuk dikembalikan. (Majapahit Nusantara akan Jaya kembali kalau tiga
permata kembali, tetapi bangsa penjajah termasuk Arab tidak
menginginkan Kejayaan Nusantara kembali supaya terus bisa bercokol di
Negeri yang makmur ini)

Sebagai sebuah makhota symbol kebesaran, ada pihak yang menilai peristiwa tersebut merupakan suatu yang cacat. Artinya, tidak sempurnanya makhota tersebut juga merupakan pertanda ketidaksempurnaan Majapahit. Mungkin saja, bila tiga permata itu dikembalikan dan dipasang kembali, kesempurnaan itu baru akan diraih.

Bukti tentang hal itu kerap dilihat dengan berbagai permasalahan social politik yang terjadi di salah satu bekas wilayah kekuasaan Majapahit ini. Indonesia masih terus berkutat dengan berbagai persoalan sosial politik.

Namun yang lebih mengkhawatirkan dengan munculnya makhota Kerajaan Majapahit di awal tahun 2009 ini, diprediksi sebagai pertanda rawannya permasalahan politik di Indonesia. Sebab, menurut pandangan beberapa waskita (peramal), Majapahit tidak pernah lepas dari persoalan politik hingga membuat kerajaan itu hancur berkeping-keping dan tenggelam bagai ditelan bumi.

Sejak kerajaan tersebut didirikan pasca Kerajaan Singosari, terjadi ber­bagai peristiwa politik. Pemberontakan Patih Nambi dan beberapa pembesar kerajaan lainnya, merupakan bukti ke-kacauan politik di kerajaan tersebut. Termasuk juga saat pengislaman Ma­japahit, tak terlepas dari perseteruan politik untuk merebut makhota kera­jaan.

Tahun 2009 merupakan tahun perhelatan politik di Indonesia. Akhir 2008, tiba-tiba saja sebuah makhota yang disebut-sebut milik kerajaan Majapahit dibawa ke bekas wilayah kerajaan besar di Asia Tenggara ini. Ada yang memprediksi, hal ini merupakan sebuah pertanda bagi kerawanan peta perpolitikan di Indonesia karena akan digelar Pemilu. Persaingan untuk memperebutkan tahta negara tak ter-hindarkan, sehingga tak tertutup kemungkinan akan muncul pertikaian politik.

Namun prediksi tersebut dibantah Sri Wilatikta Brahmaraja XI. Menurutnya, ramalan atau prediksi tersebut tidak mendasar dan tanpa bukti. Yang jelas, menurutnya, dengan kembalinya makhota kerajaan Majapahit ke bekas wilayahnya, sebagai bukti bahwa ra­malan Sabdopalon dan Noyogenggong akan segera terwujud. Kedamaian dan kejayaan yang pernah ada pada zaman Majapahit akan kembali bersinar (kalau bangsa ini menginginkan). Negeri ini akan kembali men­jadi mercusuar untuk menciptakan per­damaian dunia. Mana yang benar dari ramalan tersebut, kita tunggu kenyataannya. • Oleh Wartawan senior Liberty  *Ana*

About these ads