PEMBEBERAN KASUNYATAN


Judul di atas mempunyai arti sama dengan menjelaskan sesuai kenyataan yang terjadi sa`at ini, bukti daripada keprihatinan Brahmaraja XI, banyak kawulanya yang tidak banyak mencintai Tanah Air, sejarah dan budayanya inilah yang membikin bangsa ini sengsara terpuruk, lihat bangsa-bangsa di luar Indonesia sangat membanggakan sejarah dan budayanya akhirnya membuat rakyat sejahtera, contoh kecil banyak orang sekitar Trowulan atau tepatnya di sekitar Pura Majapahit Pusat Trowulan mereka menganggap tempat musryik, hindu, menyembah berhala, menyembah candi, patung dan lain sebagainya. Tidak banyak orang bisa menjelaskan atau bisa memahami karena sudah di cekok i oleh faham arabisasi, semuanya harus seperti Arab, bahasanya arab, adatnya arab, pakaiannya arab dan semuanya yang berbau Arab, padahal Arab sendiri hampir tidak mempuyai budaya selain konflik untuk sa`at ini.

Pertanyaan yang terjadi di sekitar Pura Majapahit Pusat Trowulan,

  1. Pura Majapahit Pusat di Trowulan adalah pura hindu, yang tidak tahu hanya mendengar kata pura langsung mengartikan tempat ibadah hindu, padahal tempat ibadah hindu sendiri di namakan Pure. Contoh di Solo ada Pura Mangkunegaran, Kota Kertapura dan lainnya,”Apakah bisa di katakan tempat ibadah hindu ?”. Kata-kata Pura itu berarti Tempat/Stana/Keraton. Jadi Keraton Majapahit Pusat Bali (mbalik). Kenyataannya (kasunyatan) di Pura Majapahit semua yang mengaku keturunan Majapahit bahkan yang dari Arab sekalipun datang ke Pura Majapahit, entah mereka dari warga Budha, Islam, Keristen, Katholik, Kejawen, Hindu, atau yang tidak mengerti sama sekali dengan Agama bersatu, berkumpul di bawah naungan Leluhur (orang tua yang sudah kembali kepada alamnya sekaligus mengawali kehidupan untuk kita semua).
  2. Ada yang mengatakan,” Candi koq di puja ?”. “Batu bata, arca, patung koq di sembah ?”. Iniah sebagian besar pertanyaan yang terlontar dari bibir mereka. Di dunia manapun tidak ada orang yang memuja Patung, Batu dan lain sebagainya, (Kalau orang cukup memuja Patung dan sukses saya akan bikin patung sebanyak-banyaknya untuk di jual ke luar negeri dan sukses kan?). Tetapi di sini (adat Jawa) Leluhur Majapahit di Candikan, sejak Islam masuk leluhur di kubur/ di makamkan. Kenyataannya masih banyak orang Jawa yang nyekar ke makam biarpun bukan leluhurnya (contoh Troloyo, kuburan-kuburan kakek neneknya di ziarahi waktu hari jum`at dan hari-hari lainnya). Pertanyaannya ritual apakah itu ?. Memang sejak masuknya Islam di bumi Nusantara banyak sekali membawa perubahan besar dalam Nusantara, Oknum-oknum tokoh Islam garis keras (kalau tidak merasa keras jangan sewot) yang seakan-akan wakil/utusan dari tanah arab yang gersang ingin menghancurkan sistim Pancasila dasar Majapahit (Kitab Sutasoma), hingga generasi sekarang/muda sudah tidak akan mengerti kitab-kitab Majapahit (contoh salah satunya Kitab Bumi Kamulan), menganggap aksara/tulisan Jawa tulisan setan/musyrik, padahal mereka lahir di Jawa tetapi tidak menyenangi aksara jawanya, omonganya sudah sok ke arab-araban padahal orang arab sendiri juga sering mengumpat dan tidak semua menghargai bahasanya. Aneh tapi nyata !!. Candi adalah tempat leluhur dari batu dan bata, berukir indah menggambarkan cerita-cerita untuk anak cucu karena jaman dahulu belum ada internet atau website/google, patung atau arca menggambarkan foto leluhur karena belum ada mister kodak/handy cam. tapi semua itu generasi muda tidak bangga malah membanggakan rumah kotak berselimut kain berada di arab, membanggakan israel, vatikan Roma dan India, membanggakan peninggaan-peninggalan penjajah, membanggakan cerita para syeh, habib dan lain sebagainya tetapi belum pernah membanggakan Mpu Tantular, Mpu Prapanca, Mpu Tan Khoen Swie dan para pujangga-pujangga Nusantara dan membanggakan warisan Majapahit yang pernah menyatukan Nusantara. Orangnya Jawa, tapi membanggakan bahasa arabnya, sampai detik ini. Penulis, BELUM PERNAH MENDENGAR ADA ORANG ARAB YANG TERUSIR DARI NEGARANYA PAKAI BAHASA JAWA DAN BANGGA DENGAN JAWANYA MINIMAL (betapa bodohnya bangsa saya terlalu banyak di bikin goblok). Ada sedikit orang Inggris pakai bahasa Jawa dengan bangganya. (Kasunyatan). Saya tidak anti, tidak benci tapi sadarlah jangan mengutak atik sejarah yang kalau “manis katakan manis”.
  3. Justru Hyang Brahmaraja memelopori ke Pancasila-an dari Majapahit malah di serbu sama orang-orang yang tidak tahu sejarah bangsa sendiri juga tidak tahu sejarah manapun (Buta hukum, buta sejarah bangsa, yang tahunya sejarah bangsa arab melulu) atau takut kena pepatah “PANAS SETAHUN DISIRAM HUJAN SEHARI”. Dan sekarang terbukti kena pepatah lagi, “BECIK KETITIK OLO KETORO”. dan GAJAH DI DEPAN MATA TIDAK KELIHATAN (MAJAPAHIT), KUMAN DI SEBERANG LAUTAN TAMPAK (ARAB).
  4. Majapahit di anggap tidak ada dan Musnah. Mpu jaman dulu menceritakan sampai-sampai “Sirna Ilang Kertaning Bumi” karena penguasa Islam demak tidak ingin sejarah Majapahit di pelajari serta tidak mau tahu akan keberadaannya, terbukti sampai detik ini yang berbau Jawa (kejawen) ajaran yang mengajarkan silsilah/asal-usul/Kitab Bumi Kamulan di anggap kitab kuno dan sesat dan seakan-akan harus di musnakan dari muka bumi berganti dengan kitab arab yang sebagian besar orang jawa tidak tahu artinya (Betapa bodohnya lagi bangsa saya dan ironis).
  5. Memang Majapahit masa Bhre Wijaya atau masa Trah Brawijaya sudah Sirna Ilang Kertaning Bumi, sebagian sudah masuk Islam berganti nama dengan yang sama punyaan orang arab contoh Muhammad Malik, Syeh alex onto kusumo (nama jawa bergelar syeh, aneh) , dan habib-habib yang notabene suku Jawa dengan bangganya memamerkan nama bangsa timur tengah. Tetapi Trah Wilatikta Brahmaraja Trah Prabu Jayasabha saudara dari Prabu Jayabaya/R. Wijaya/ Prabu Brawijaya I sampai detik ini masih eksis melaksanakan adat dan Budaya Majapahit. Malah di tutup dari segala kegiatan dan ritual. Jadi Majapahit yang mana sirna ?. Apakah keturunannya juga sirna ? (Betapa tololnya lagi pemikiran bangsa saya, kaumnya jawa sama seperti saya (penulis) tapi sok munafik mementahkan sejarah bangsa)
  6. Penulis mengungkapkan salut dengan arab yang menguasai Nusantara dengan memaksakan sariatnya biarpun dengan sedikit membodohinya, memang bangsa kami bodoh/jujur tetapi tidak semua goblok, faham arabisasi tidak cocok di bumi Nusantara yang beragam suku, Ras, Golongan dan budayanya. Renungkan dan sadarilah. ” Berapa banyak orang Jawa yang bisa ke Arab menunaikan rukunnya dengan sempurna ?”. Mereka banyak yang miskin dan Kere.. kasihan. Jangan do`akan mereka untuk mengikuti jejakmu ke ARAB wahai orang Jawa yang membanggakan tanah padang pasir. Jangan salahkan leluhur atau alam ini yang tidak berpihak pada bangsa ini karena sudah tidak cinta lagi dengan Tanah Airnya. Patutlah Bangga kita sengsara, kurang air, panas, mata air keluar minyak sampai tidak bisa di minum karena memang itulah yang kita harapkan. Yang berharta mungkin bisa ke arab, yang tidak berharta terimalah dengan lapang dada bayangkan tanah yang berpasir serta onta sesuai dengan impian, daripada di sini menanam jagung tumbuh, menanam padi hidup, menanam mangga jadi manis aneh tongkat dan kayu jadi tanaman laut indah, gunung mempesona, wanitanya cantik, jejakanya tampan rempah-rempah melimpah hingga menjadi rebutan bangsa lain termasuk pedagang gujarat membawa islam. jadi semua agama di bawa oleh pedagang/saudagar. Hingga para leluhur mengutuk dalam Ramalan Leluhur Sabda Palon ayatnya mengatakan “Saudagar Tuna Sedarum”. Saudagar krisis moneter.
  7. Kasunyatan lainnya banyak sekali di temukan uang gobog/uang cina di manapun, tetapi ada sebagian kelompok Arab anti pati dengan Cina leluhur Majapahit dari Ibu/Predana (PERISTIWA 14-15 Mei 1998) Padahal ada hadist “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina”, lha omongannya nabi saja tidak di anggap, keturunannya N.Muhammad saja di bantai (Peristiwa Hasan-Husain) belum tahun 1965 orang yang tidak ke masjid di bantai di cap Komunis, atau apalah….sampai detik ini Dayak Kaharingan di somasi, Sapta Darma di gebuk, ahmadiyah di SKB hingga membuat bingung mau jadi Islam MANAKAH ?. Membingungkan kelakuan para Dajjal ini. Harus Islam Arab tapi sama-sama bercokol di Nusantara alasanya banyaklah, mayoritaslah UUD gak cocoklah. Tidak bertuhanlah, padahal ilmiahnya semua kenal Tuhan melalui orang tua atau leluhurnya, coba dulu tidak di taruh pesantren, tidak di ajak ke gereja, tidak di ajak ke pure semuanya tidak mungkin mengenal Tuhan justru leluhur atau orang tualah tangga pertama anda semua mengenal tuhan, tetapi leluhur di anggap hantu, roh gentayangan dan lain sebagainya. Inilah para dajjal berkedok alim yang akan memecah belah bangsa Indonesia. Sadarlah bagi yang sadar, tidak pun boleh karena Hak Asasi masing-masing. Saya mengungkapkan kasunyatannya saja. Gemah Ripah Loh Jinawi hanya kata-kata leluhur terbukti di Majapahit semua menemukan Jalan.

Masih banyak yang ingin saya sampaikan, mungkin di lain tempat di google ini salam sejahtera Rahayu untuk kawula semuanya…Saya menunggu kesadaran anda semua kawula Majapahit untuk bangkit dari kebodohan dan keterpurukan saat ini, jangan munafik, dan yang hebat adalah jawanya (ANDA SEMUA) bukan dari faham arab (islamnya), faham India, (hindunya) faham israel (kristennya) ataupun faham-faham dari siapapun karena semua faham itu di bawa oleh pedagang yang harus untung pada waktu itu tapi, dari andalah yang hebat, orang Nusantaranya yang hebat. Nanti akan saya khabarkan berita terhebat dari anda-anda di seluruh Nusantara , menunggu anda bangga dengan negeri tecinta, bangsa tercinta., sejarah terhebat, menyatukan Nusantara, punya Borobudur (biarpun hanya sering di pakai pariwisata), Prambanan, dan lain yang masih banyak tak ternilai, di arab cuma satu, kotak lagi tapi mengapa bangsa ini mencintainya ?. Siap mati untuk padang pasir !. Tanyakan pada diri Anda sendiri ?. (tertanda Mpu Pandhita Agung Majapahit Nusantara).