RITUAL DAN KIRAB BUDAYA


Jangan tinggalkan Leluhur Ritual dan Kirab Budaya di Klenteng Eng An Kiong, Malang Di Persatukan Dewa-Dewi beserta Leluhur.

Klenteng En Ang Kiong genap berusia 182 tahun. Selain ritual rutin, sudah banyak kegiatan spiritual yang di gelar di klenteng ini. Tampaknya, Dewa dan Dewi mempersatukan umat Tri Dharma dari beberapa penjuru tanah air.
KLENTENG Eng An Kiong kota Malang sudah sedemikian akrab di telinga mayarakat Malang. Tapi siapa yang tahu pejuang Tiongkok yang mendirikan bengunan tempat ibadah Tri Dharma (TITD) yang satu ini?. “Tidak ada yang tahu, berbeda dengan Klenteng yang ada di Semarang misalnya, catatan sejarahnya lengkap . Tapi Klenteng kami ini, kami tak tahu,” Terang Salam Santosa Humas Klenteng Eng An Kiong.

Menurut Salam, sebagaimana lazimnya dulu, para pelarian Tiongkok datang ke Indonesia dengan membawa para Dewa-Dewi pelindungnya. “demikian juga mereka yang datang ke Malang. Membawa Dewa yang kini menjadi pelindung Klenteng kami yakni Dewa Hok Tik Ching Sin sebagai Dewa Bumi dan kemakmuran.” Terang Salam Santoso yang di jumpai disela-sela persiapan kirab akrab untuk memperingati ulang tahun Klenteng Eng An Kiong yang ke-182.

Ditambahkannya, dulu Klenteng Eng An Kiong tidak didirikan di jalan Martadinata seperti sekarang berada “Tapi ada didaerah Wiramarga dekat Pecinan Kota Malang. Baru pada tahun 1825 pindah kesini. Tapi ya begitulah siapa yang membangun, siapa yang merawat, catatanya tak jelas. Yang kita miliki sekarang hanya Prasasti yang berisikan nama-nama dimasa kini.” Tambah Salam Santoso.

Dalam kirab Akbar ini, peserta dari Puri Surya Majapahit, Jimbaran, Bali juga turut hadir. Dalam kesempatan itu juga, Sri Wilatikta Brahmaraja XI, ketua Penglingsir Puri Surya Majapahit juga mengikuti kirab dari start sampai finish. Pria yang cukup dipanggil Hyang Suryo ini menandaskan, ke ikut-sertaan Puri Surya Majapahit dalam acara ini adalah untuk mengingatkan agar manusia tidak melupakan Leluhurnya, termasuk mereka keturunan Majapahit.

“Keturunan Majapahit Leluhurnya juga dari Cina (Budha ) yang menikah dengan orang Jawa (Siwa). Jadi saya adalah Siwa-Budha. Sri Brahmaraja I atau Hyang Wisesa menikah dengan Li Yu Lan yang kemudian dikenal dengan Indreswari (Dara Jingga). Di kemudian hari Indreswari mendapatkan gelar Ratu Mas Megelung. Berturut-turut mereka mempunyai keturunan yang membesarkan Majapahit.

Mengapa sekarang Sri Wilatikta Brahmaraja XI lebih banyak tinggal di Bali ?.Di karenakan di Trowulan sudah di tutup berdasarkan keputusan Menteri Agama dan Mendagri No. 01/BER/MDN/69 dan Perda Kab. Mojokerto No. 16 Th.83. tanpa alasan yang jelas.

Sebagaimana umat Tri Dharma, para keturunan Majapahit ini jangan melupakan “Leluhurnya”. “Siwa- Budha di Majapahit bisa menyatukan Nusantara yang berperan tentu para leluhur kita jadi jangan lupa bahwa Leluhur kita satu yakni Majapahit”. Ujar Sri Wilatikta Brahmaraja XI seraya mengucapkan keprihatinannya.

Ditambahkan, “bukan hanya Hindu, Budha yang boleh sembahyang di Pura Majapahit, tetapi semua dari pemeluk agama manapun karena kalau dilihat Majapahit bukan Agama tetapi pelestarian Budaya, jadi jangan di salah artikan mengenai pemahaman pengertiannya”.tambah Hyang Suryo Wilatikta Brahmaraja.

Dalam kirab kali ini, Puri Surya Majapahit membawa Kiem Sien Dua yaitu Dewi Kwan Im tangan seribu dan Siwa Parwati tangan seribu. Anggota Puri Surya Majapahit ini tidak saja dari Bali tetapi ada yang jauh-jauh datang dari Jakarta. (Di tambahkan dan di kutip dari Posmo, 1 Agustus 2007. Edisi 430)