KONSEP SIWA BUDHA


Konsep Ciwa – Budha yang diterapkan oleh Mpu Tantular pada Abad ke- 13 pada tahun 1293, 715 tahun yang lalu yang dipakai dasar Negara Majapahit, dengan bunyi lontar Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua”yang diteruskan oleh Sukarno Presiden Republik Indonesia I, pada 1 Juni 1945 yang dipakai dasar Negara RI yaitu Pancasila.
Konsep ini sudah diterapkan dulu di Nusantara ini pada waktu kerajaan Majapahit. Sekarang ini tanpa sadar masyarakat Bali yang sekarang di klaim Hindu masih menerapkan konsep Ciwa-Budha. Ini terbukti dengan adanya Upaca Yadnya dan menjunjung pemujaan terhadap Leluhur/Kawitan dan konsep Tri Hita Karana.

Kenapa ada Ciwa dan Budha karena kalau kita telaah darisegi Leluhur/Kawitan, Leluhur Purusa atau dari laki-laki memang dari dulu sudah penganut Ciwa yang sudah dilaksanakan dari jaman Medang Kemulan. Sedangkan dari Leluhur Predana atau dari Ibu adalah beragama Budha. Selanjutnya gererasi penerusnya memakai ajaran dari Purusa dan Predana yaitu Ciwa-Budha.

Pura Ibu Majapahit di Puri Gading Jimbaran

Dari segi Filosofi Ciwa adalah Tuhan itu sendiri sedangkan Budha itu adalah Budi Pekerti dimana kita dalam penerapan spiritual kita harus mempunt\yai Budi pekerti maka dalam menjalankan kehidupan kita harus selalu memakai Budi pekerti luhur.

Pada jaman Majapahit konsep Ciwa Budha ini dipakai dalam sisitem ketatanegaraan konsep ini terbukti

bisa menyatukan Nusantara dengan hasil kemakmuran Gemah Lipah loh jinawi

Pada waktu datangnya penyebaran agama Islam konsep ini mulai tidak

digunakan lagi masyarakat dijawa, dan mulai runtuhnya kerajaan Majapahit.yang diserang dan dikhianati oleh Jimbun Demak

Dan dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Dan Bali hanya dijajah

selama 61 tahun oleh para Penjajah.

Oleh para Rsi konsep Ciwa-Budha dibawa ke Bali dan diterapkan sampai sekarang.

Penerapan itu bisa kita lihat pelaksanaanya dengan pemujaan terhadap Leluhur, mencintai tanah air serta memberi sesuatu berupa upakara beantenan/sesajen kepada ibu pertiwi dan sampai sekarang adat istiadat dibali masih melaksanakan konsep tersebut. Sudah banyak contoh yang bisa kita lihat seperti bencana alam yang menimpa tanah Jawa dimana mereka lupa dengan adanya Leluhur. Dalam lingkup kecil kita bisa contohkan dengan adanya Bapak dan Ibu kita, . “barang siapa yang lupa dengan adanya orang tua/kawitan/leluhurnya maka orang tersebut tidak akan pernah mendapat kebahagiaan semasa hidupnya”.Ucap Sri Wilatikta Brahmaraja XI Raja Majapahit, yangt masih menerapkan konsep Ciwa-Budha secara penuh sampai sekarang.

Puri Surya Majapahit yang dipinpin oleh Brahmaraja XI dalam penerapannya telah tewujud dua buah Candi, dimana untuk pemujaan tehadap Purusa/Bapak berada di kawasan GWK Ungasan dan Purusha/Ibu berada di Puri Gading Jimbaran.

Dimana dalam pelaksanaan upakara dengan memekai bebantenan/sesajen Ciwa-Budha.

Selain itu penerapan konsep ini dengan pelestarian budaya dalam bentuk penyelamatan benda-benda peninggalan Leluhur dan lain-lain.(lakon/Edi)