PURA MAJAPAHIT KADIRI BUKA BLOKIR PELAYARAN
Kejatuhan Pura Majapahit Trowulan 1478 M atau disebut Sirna Ilang Kertaning Bumi 1400 Saka, Atas serangan Bupati Demak Raden Patah dibantu Wali songo, Serangan ini memang tidak di ketahui Ampel Denta, Barulah setelah Pura Majapahit berhasil dihancurkan, Patah laporan Ke Ampel dan malah dimarahi. Serangan ini membuat kekacauan Lalulintas Perdagangan Kadiri dan Dunia luar, karena Perhubungan hanya melalui sungai, jalan darat Sulit, dikuasai para Akuwu setempat dan Pasukannya, Peperangan di Trowulan pun membuat macet, dan tidak bisa keluarnya Perahu Pedagang yang sudah di Bandar Lor Daha [sekarang Lapangan Daha dan barat sungai masih bernama Bandar], Akhirnya diputuskan oleh Raja Daha, Jenggala dan Kadiri membuka Blokir Tentara Islam Demak yang menguasai Trowulan. Waktu itu Bhatara Kadiri dipegang Sri Aji Wijaya, sebagai Raja Kadiri bergelar Bhatara Wisnuwardhana VIII [Raja titisan Wisnu] dengan Abiseka Putra Mahkota Majapahit Sri Wilatikta Barahmaraja V 1427 dipersiapkan sebagai Putra Mahkota Wilatikta oleh Bapaknya Sri Aji Pangkaja Cina [ Lontar Bali banyak menyebut kan bahkan Desa Pangkaja masih ada] Yang juga berabiseka Sri Wilatikta Beahmaraja IV Juga Bhatara Daha Wisnuwardhana VII, Beliau Suami Bhatari Wilatikta VI [Ratu Majapahit VI Dewi Suhita], Karna Beliau ditarik ke Pusat mendampingi Istrinya, Pura Daha diserahkan Putranya Sri Aji Wijaya. Setelah Trowulan Tidak ada, Sri Aji Wijaya Otomatis menjadi Raja Majapahit, Karena Sudah di Abiseka Ibundanya Bhatari Wilatikta VI sejak kecil sebagai Sri Wilatikta Brahmaraja V. kembali ke Trowulan, dengan dikalahkannya Pura Wilatikta Pusat, Demak menganggap Majapahit habis, Dan memang waktu itu Brawijaya tidak siap berperang, Belau sudah Tua dan menganggap sudah di Rukir istilah catur, Angkatan Laut berada di Ujung Galuh, Ampel Denta pun tidak memusuhi, biarpun Agama Rasul sudah kuat dan merak’yat, ini Agama Simpel/Ngirit tidak perlu buang Uang untuk Odalan,Caru, Tetoyan dll karena muja Allah satu, Tinggal kelompok Pura yang Kafir/Kufur/Batil/Kawak/Kuwuk dan Musrik. Selalu membuang uang/boros untuk Upacara/Odalan, Islam pun tidak menduga serangan dari selatan, akhirnya Trowulan ditinggalkan dan Ipar Raden Patah Nyo Lai Hwa ditaruh Trowulan didampingi Adipati Terung dan sebagian Wali, Yang akhirnya di Berontak Rak’yat setelah Angkatan Laut Kadiri dan para Pedagang membuka Blokir, Nyo tewas, setelah itu Demak kurang memperhatikan Wilayah Trowulan yang jaraknya 400 km dari Demak, juga malu dengan Ampel yang tidak merestui Penyerangan ke Majapahit. Kadiri tetap menjadi Bandar Perdagangan, Jung/Perahu Cina, Portugis, Belanda, Inggris dll tetap berdagang ke Bandar Kadiri, ini diera Kerajaan Ming Cina 1368-1644 dimana Keramik Ming masih banyak dimiliki Cina di Kadiri termasuk Turunan Tan Koen Swie Penerbit “Sejarah Kadiri” yang diakui, Memang pernah Terenggono Putra Raden Patah menyerang Kadri, Sunan Bonang pun ngobok-ngobok Kadiri, Tapi sejak lama Daha jarang terlibat Peperangan, Kekuatan Agama Suci Rosul akhirnya membuat Kadiri Tenggelam, Adat Islam mulai merambah, Penghancuran Candi, Pembrantasan Kekafiran berlangsung di Desa yan mayoritas dikuasai, Untung Belanda masuk, Para Adipati Kafir mengijinkan Mereka membikin Pabrik Gula dan kerja sama Menghidupkan Kafir/Musrik seperti Selamatan, Nyuguh Danyang dll, setelah Belanda kuat lalu membuat UU melindungi Candi, penerbitan Buku Kafir yang dulu dibakar, dan dilenyapkan. Bukti masih banyak Jalan raya di Kertasana Banyak “BUL” nya cerobong asap Pabrik Gula yang hancur waktu jepang masuk, Karena Islam Dominan ya Para Keluarga Kafir kembali Jadi Cina Nyembah Pek’Kong /Leluhur dan Jaman Kerajaan Cina Cing 1644-1990 [Raja terakhir Aisin Yek Lo, tewas di Beijing 90 an], Kerajaan Cing memerintahkan pada Warga Cina supaya membuat Klenteng Leluhur, Kadiri dan Kota lain di Nusantara banyak Klenteng nya, akhirnya 1965 semua kegiatan Cina dilarang dan di Cap Komunis , dan banyak yang di bunuh, Tapi Orang Jawa yang diawasi di desanya tidak ke Masjit, juga ditumpas sampai Bayi nya jumlah nya sampai Jutaan, Kadiri pun tak luput, Jaman Belanda dilindungi, Jaman Sukarno tambah maju, Hubungan mesra, sampai Banyak Ahli disekolahkan di Cina, tapi tidak berani pulang, pulang langsung dijemput di Bandara ditahan /dihilangkan. Sekolah, tulisan Cina dilarang/ditutup. Saksi-Saksi hidup saat ini masih banyak, cerita di Kadiri pun biasa di Warung Kopi, seperti harian MEMO Kediri memuat berita penggalian kuburan masal 1965 didaerah Blitar dan bersambung terus. dibaca penjual emperan di Alun-Alun Doho, koran murah meriah ini cuma rp. 1000,- banyak mengungkap penumpasan masa lalu, terbukti biarpun di Tumpas Kadiri masih Eksis kini Buku Tan Korn Swie malah diakui “Sejarah Kadiri” tentunya Kritik dari Orang Jawa otak Arab tetap gencar, sebab yang paling sah cerita Arab, Hijrah Nabi, bukan Hijrah nya Wijaya, Seperti Buku Pararaton, agar boleh terbit, dan Islam tidak marah, Ken Arok dikatakan Perampok, Pemerkosa dll, sangat bertentangan dengan Buku Negarkertagama yang ditemukan Brandes di lombok belum direkayasa. Jadi semua terbitan Jaman islam banyak direkayasa, jangankan dulu, Orde Barupun kemarin 1965-1988 banyak merekayasa Sejarah, contoh Film G 30 S Pki, penuh rekayasa, dimana di Metro TV di ungkap Dokter yang buat Visum masih hidup, surat Visum 1965 ditemukan, terungkaplah Kebohongan Publik, banyak Fakta lain diungkap TV yang sudah diketahui Publik. Demikianlah Trah Brahmaraja masih Eksis di masa kini, dan tidak pernah mengobok-ngobok sejarah Arab bahkan mempelajari, dan sangat bertentengan dengan adat Majapahit, dimana Leluhur sangat dihormati, Arab? Rumah/sejarah Nabinya dihilangkan/dihancurkan agar tidak di Puja nanti Musrik, lha itu hak asasi Budaya Mereka, Tapi kenapa di Trap kan disini? Pura Majapahit Trowulan diserbu, di Bom karena kuat, ditutup Muspika setempat hanya untuk Mengagungkan Budaya Arab. Bahkan Camat Trowulan pada pembukaan Rapat dihadiri Kapolsek, Koramil, Tokoh Agama Islam dll, berkata “Sejarah Majapahit perlu di Evaluasi” mungkin yang sah sejarah Arab, Akhirnya dievaluasi Leluhur Majapahit yang Punya Tanah yang ditempatinya, lha Struk kurang lebihnya 3 tahun dirumah sakit dan Tewas sebagai Pahlawan Pembela Imam Karyono. yang menutup Pura Majapahit Teowulan. Rumah/Pura/Griyo/Dalem Brahmaraja. Jadi penulisan Jaman islam tidak ada, Ngarang, Dengar-Dengar, contoh : Putri Cempo Hamil diantar Aryo Damar dan Gajahmada ke Gersik, ini jelas Nipu lha wong Arya Damar sudah tidak ada 100 tahun bisa hidup lagi, bikin anak lagi. Tan Koen Swie Jelas bukunya dan Kasunyatan malah dilarang Mangkanya Camat bilang bilang perlu dievaluasi,Tulisan Arab tentang Kibulan inilah yang perlu diluruskan, Reformasi dibilang macet, sebab Arab diberi kebebasan “dikasi Hati Ngrogoh Rempelo” buktinya Ali Orang Arab ditangkap Densus 88 mrmbiayai Teroris, Orang diajari Ngebom, Greja Kristen Mojokerto Malam Natal 2000 habis di Bom, Pura Majapahit Trowulan juga diserbu, di Bom, Malah ditutup lagi sama Muspika. Aneh tapi Tapi Nyata Arab selalu di bela,- Hak Pengarang dilindungi UU, kalau Bangsa sendiri ngarang malah di Bredel, dilarang terbit, contoh buku Prof. DR. Slmet Moelyana tentang Majapahit dilarang beredar Karena usul Prof. DR. Hamka, kalah saingan, Buku Tan Koen Swie, Sitor Situmorang, Pramudya Ananta Tor dll, kalau buku Arab bebuas. harusnya jangan main bredel, ayo adu terbitan,Pembaca yang menilai, jangan sedikit-dikit, melecehkan Islam, tidak mau dilecehkan, tapi Menghancurkan Orang, Bali, Gereja, Hotel di Bom, Ahcmadiah sudah ada 1925, Saptodarmo di hancurkan, Adat Jawa 1000 tahun lebih di Bilang musrik dan dilarang, kok Menangangan terus, Adat Arab numpang di Nusantara, harusnya hormati tuan rumah, tapi ya maklum pelaksananya Bangsa sendiri Arab dananya.[Ali Baba]

Andri 02:51 pada 1 Oktober 2009 Permalink |
masih ngak percaya, jangan tinggal di indonesia
For Xiaodi 09:07 pada 1 Oktober 2009 Permalink |
benar…tinggalah wahai gak percaya sama mungkar nakir…dangan dajjal atau dimakan brekasakan…benar..benar to ANDRI… WONG JOWO TO
ronggo jalu 08:15 pada 30 Maret 2010 Permalink |
Kok Benci Banget Waskitoniphun dateng Bongso ARAB
Jalu Ronggo 05:45 pada 21 Oktober 2010 Permalink |
Bukan benci…hanya buka kesadaran wes diapusi terus karo arab…hingga wong jowo ilang jawane
pa radiso 15:03 pada 31 Januari 2011 Permalink |
ingat cina PP 10. yang diusir bungkarno.PP 10 melarang cina bertempat tinggal dan beraktifitas diluar kabupaten. hal tsb dilaksanakan dengan baik di priangan.dan setiap bulan ada kapal cina yang mengangkut cina usiran pp 10.pulang ketiongkok.sayang hal tsb terhenti dijaman soeharto.
hidup bung karno.usir cina dari indonesia!!!!
Bambang 07:00 pada 28 Oktober 2010 Permalink |
Mau tanya apakah Puri Majapahit ini ada kaitannya dengan Yayasan Trah Brawijayan yang sebagian pengurusnya ada di Jakarta? Dulu salah satu pengurusnya itu masih termasuk keluraga saya, kamu panggil Pak Dhe Imam. Saya sendiri asli Mojokerto, Jawa Timur. Tolong minta keterangan dari Puri Majapahit ya?
bara 16:13 pada 5 Januari 2011 Permalink |
Iki wong cethek pikire, orang iso mbedake endi etan endi kulon. Mung asal mangap, ngablak ora papan………..terusno le, aku yo wong Jowo asli Kadhiri, nunggu…..metune abab soko cangkemu
Wijining Satriyo 05:51 pada 12 Januari 2011 Permalink |
Sayang sekali nama Majapahit kok dipakai untuk kata2 yang tidak simpati, penulis dengan yang dihujat di mana bedanya??? SAMI MAWON. Aku yo wong jowo pengagum majapahit
Paramitha Ayu 17:55 pada 1 Mei 2011 Permalink |
Kebangkitan Majapahit sudah memberi inspirasi untuk memahami kebangkitan bangsa di nuswantoro, dan mengembalikan kejayaan java dvipa. Javadvipa ini dikenal sebagai daratan yang gemah ripah lohjinawi…bahkan menjadi pusat kebudayaan dunia yang maju jauh sebelum Hindustan, Arab, Indian, Ainu, Mesir, Babylon dan bangsa bangsa besar lain.
Hal ini diungkap lewat penelitian selama 30 tahun dari Prof Ariyo do Santos dari brazil. Jadi kira kira 11000 tahun yang lalu, berdiri kerajaan atlantis di benua yang terletak di Indonesia. Fakta sains mengungkapkan bahwa Orang Indonesia Purba mempunyai Teknologi dan Budi pekerti yang lebih tinggi dibandingkan ras moderen saat ini. Silahkan lihat di http://www.atlan.org.
Dan ras kitalah yang menurunkan ras arab, yahudi, khmer, ainu, indian, kreta, yunani, mongol romawi dan bangsa barbar eropa. Tapi tangan tangan orientalis barat khususnya penjajah VOC dengan politik Pecah Belah dan Adu Domba berusaha menutupi sejarah asli dari kebudayaan bangsa kita.
Namun Politik tetaplah politik, muncul ilmuwan dengan semangat luhur untuk mengabadikan bukti bukti budaya yang ada di tanah hindia belanda. Adalah Dr. N.J. Krom dan Prof. Husein Djayadiningrat (prof. HIndia Belanda yang pertama di Leiden University belanda tahun 1913) yang pertama kali menghimpun data dan fakta peninggalan wangsa sailendra di yogyakarta, yaitu candi borobudur.
Semangat ilmuwan-ilmuwan tanpa lalah untuk mengungkap kebenaran ini, dilandasi semangat universal. Tanpa menimbang unsur SARA.
Dari catatan yang saya pelajari dari beberapa teman di Universitas Leiden, Kitab, pararaton dan negarakertagama serta catatan beberapa laksamana tiongkok menunjukkan bahwa Majapahit mencapi kajayaan pada abad ke 14. Sementara pedagang islam pakistan sudah masuk sejak abad ke 8. Runtuhnya majapahit sebab utamanya adalah karena perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an, dan pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468.
Jadi bukti sejarah otentik yang mengatakan bahwa keruntuhan majapahit disebabkan oleh serangan demak adalah mitos (Romo Swantoro : Kajian JP Van Earp 1930). Dalam tulisan surat van earp, pejabat arkeologi setempat, kepada gubernur hindia belanda disebutkan “Perlu dilakukan pembelokan sejarah terhadap catatan-catatan sejarah majapahit, agar tidak menimbulkan perlawanan perlawanan terhadapa ekspedisi timur jauh”. Sejak saat itu muncul opini bahwa kerajaan hindu Majapahit dihancurkan oleh ekspedisi Pati Unus (1561 M), padahal faktanya telah disampaikan dalam candrasengkala bahwa Prabu Hudara (Prabu Brawijaya VII) telah bersabda “sirna ilang kertaning bumi”. Kemakmuran akan hilang ditelan bumi, karena angkara manusia yang memperbutkan tahta dan menimbulkan paregreg.
Jika penulis memang memiliki semangat Bhattara Saptaprabhu dan masih menjadi penganut budha sywa. Janganlah menebar angkara lewat supata. Bahkan prabu Kalagemet (Hyang Sri Jayanegara) sekalipun tidak pernah menaruh kebencian pada bangsa arab dan china, meskipun secara politik china pernah menjadi musuh yang berhasil diusirnya.
Saya adalah wanita penganut sywa budha, menikah dengan muslim dan anak kami 2 orang. Tidak pernah sekalipun kami menyinggung entitas keberagamaan kami. Karena negeri ini berdasar pancasila. Mohon dengan hormat penulis lebih memahami nilai budaya dharmma upapatti sebagai landasan penulisan yang benar.
Jangan hanya memandang ras lain lebih rendah seperti kaum zionis, nazi arya, kukulkan dan badui. Sebab kita adalah penduduk Nuswantoro…terima kasih