KETURUNAN MAJAPAHIT


Tersebar di seluruh Dunia !!!………, hanya yang masih melestarikan Adat dan Budayanya sampai sekarang hanya Bali biarpun para keturunannya / Wangsa Ksatriya, Brahmana, Waisya di sebut beragama Hindu yang konon berasal dari India tapi prakteknya tidak identik sama sekali dengan India. Ajaran Siwa Buda serta orang-orangnya sangat identik dengan masa Majapahit, lontarnya, gaya model bangunannya serta sistimnya. Sedangkan Hindu di canangkan di Indonesia tahun 1960 Masehi. Sedangkan Kasta atau status sosial sudah di hapus pada tahun 1971, karena itu bikinan bangsa asing yang ingin memecah belah keturunan Majapahit.

Dunia mencari dimana sebenarnya majapahit ?.
Bung Karno pernah berkata,” Jika ingin melihat Majapahit datanglah ke Bali !”. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Calon Generasi Majapahit

Calon Generasi Penerus Majapahit

Bersatu di Kawitan

semua keturunan Bersatu di Kawitan

Untung tidak semua di tumpas oleh pasukan Islam Demak dibawah pimpinan Patah di dukung oleh sunan yang merasa sakit hati (cuplikan Dharmagandul yang sempat di larang). Mengapa cerita Dharmagandul di larang ?. Jelas ketakutan para Dajjal yang berkedok agama islam dari aliran keras untuk menguasai bumi Nusantara yang Gemah Ripah Loh Jinawi karena di Arab hanya Padang pasir dan terusir.

PUSAKA WARISAN NUSANTARA
Pameran Pusaka Budaya Nusantara–Upaya ”Mengakrabkan” Generasi Muda denganWarisan BudayaSelama dua minggu, dari 20 Juli hingga 2 Agustus 2003, berlangsung pameran benda-benda pusaka di Gedung Ksirarnawa Art Center, Taman Budaya Bali. Benda-benda pusaka yang diperlihatkan kepada publik itu berasal dari beberapa periode zaman Majapahit, Singosari, Pajajaran, Kasunanan, Kasultanan dan Kadipaten. Selain benda pusaka berupa tosan aji keris, tombak, cundrik dan lain-lain juga dipamerkan benda-benda keramat seperti pratima Pura Majapahit, pratima Raja Brawijaya di Candi Simping dan batu pusaka Pura Dalem Solo Bali. Pertanyaannya, apa sesungguhnya tujuan dipamerkan benda-benda itu? Kenapa yang keramat juga diperlihatkan kepada publik?Pameran yang dibuka Kadis Pendidikan Propinsi Bali Gusti Ngurah Oka, S.E. itu memiliki makna tersendiri. Selain, berupaya untuk ”mengakrabkan” generasi muda kepada benda-benda pusaka, pameran itu sesungguhnya memberi gambaran kepada masyarakat bahwa sejak lama para nenek moyang bangsa Indonesia memiliki keahlian menciptakan senjata. Tidak hanya tajam secara fisik, juga diyakini memiliki yoni kekuatan gaib.Ketua Panitia Pameran Dr. RM Heng Roos Gianto, M.Si. mengatakan, selama ini ada kesan bahwa generasi muda ”takut” terhadap benda-benda pusaka. Demikian juga benda-benda yang dikeramatkan. Bahkan, keberadaan benda-benda keramat seolah-olah ditutup-tutupi.Karena itu, selain senjata pusaka, dalam pameran kali ini sejumlah benda pusaka pada masa Kerajaan Majapahit ikut diperlihatkan kepada masyarakat, khususnya Bali. ”Kita berharap agar generasi muda akrab dengan budaya warisan nenek moyang bangsa ini, dan tidak silau pada budaya asing,” katanya.Benda-benda pusaka Pura Majapahit yang dipamerkan di antaranya satu paket leluhur Singalayapara. Benda yang dikeramatkan itu terbuat dari perunggu, kuningan dan emas berupa arca leluhur putri Majapahit yang dimanifestasikan Ratu Mas Magelung atau Dewi Kwan Im.Di samping itu, ada bedug Singa Ludaya, arca Dewi Suhita atau Ratu Galuh Kencana putri Majapahit topeng Gajahmada, lukisan keramik dan lain-lain. Pada zaman Majapahit, tiap ujung kiri tempat pemujaan leluhur diberi tambur atau bedug. Hal itu masih dilakukan sampai kini, kendati tidak ditabuh.Panditoratu Pura Majapahit Hyang Suryo Wilatikno mengatakan, benda-benda pusaka itu memang dikeramatkan di Pura Majapahit.Kenapa benda-benda tersebut diperlihatkan kepada masyarakat umum, Hyang Suryo memiliki alasan yang mendasar. Selama ini, katanya, Pura Majapahit ditutup atau disegel oleh pihak berwajib. Kegiatan ritual dan aktivitas lainnya dilarang. Bahkan, ada isu ingin dibom oleh pihak tertentu. Karena ditutup, tentu umat tidak sempat tangkil ke pura tersebut –yang mana di sana terdapat sejumlah benda pusaka pada masa Kerajaan Majapahit.”Itu makanya kami memamerkan benda-benda tersebut, dengan harapan masyarakat tahu bahwa inilah benda pusaka yang distanakan di Pura Majapahit Trowulan,” ujarnya didampingi Yanto (Islam) dan Ajun (Buddha) dua orang yang berbeda agama, tetapi memiliki garis luluhur yang sama, Majapahit. (orangnya masih hidup dan bisa di tanya)Sebelumnya, kata Hyang Suryo, benda-benda pusaka itu berada terpencar di sejumlah tempat. Bahkan, ada yang disimpan oleh beberapa keluarga. Setelah Pura Majapahit berdiri tahun 1997, benda-benda itu disimpan di pererepan Pura tersebut.Hyang Suryo yang mengaku keturunan ke-11 Kerajaan Majapahit hasil perkawinan Brahma Raja Wilatikno dengan putri Cina bernama Li Yu Lan itu mengatakan, benda-benda pusaka tersebut ”dipelihara” oleh mereka yang memiliki garis keturunan Majapahit. ”Kendati mereka berbeda agama, sampai saat ini tetap pada tradisi nenek moyangnya,” kata peraih bintang dharma dan bakti budaya tersebut.Pratima BrawijayaJika diamati, memang ada yang unik dalam kegiatan pameran pusaka budaya nusantara yang diselenggarakan Paguyuban Trah Sultan Hamengku Buwono dan KGPAA Paku Alam bekerja sama dengan paguyuban penggemar keris Yogyakarta Sri Kanowo pimpinan Ir. RM Wibatsu itu.Dalam pameran kali ini panitia menghadirkan pratima Prabu Brawijaya — pendiri Kerajaan Majapahit — dan batu pusaka Pura Dalem Solo. Kedua benda keramat itu di-stana-kan di Taman Budaya selama pameran berlangsung. Batu pusaka itu selama ini di-sungsung di Pura Dalem Solo, Banjar Aseman, Sedang, Abiansemal, Badung. Sementara pratima Prabu Brawijaya di-stana-kan di Candi Simping, Jawa.Dihadirkannya benda tersebut, kata salah seorang panitia pameran Dr. KRHT Sumadi Kertonegoro dan Wakil Ketua Paguyuban Sultan Hamengku Buwono dan KGPAA Paku Alam E Bambang Eko Priyono, B.Sc., sebagai ”pelindung” benda-benda tersebut dari pengaruh energi negatif. Sebelum pameran berlangsung, kata Kanjeng Sumadi, ada pawisik agar keduanya disandingkan dalam pameran. Karena itu, kedua benda keramat ini ditempatkan dalam suatu ruangan yang disucikan di Taman Budaya.Sekitar 600 benda pusaka dipamerkan dalam kegiatan itu. Selain keris, ada tombak, cundrik, patrem, pedang, golok, samuari, dan berbagai jenis senjata dari negara tetangga seperti Filipina, Tiongkok, Korea dan Thailand. Uniknya, ada pusaka Dewata Nawa Sanga, juga ada keris Tri Sula Majapahit, keris Mataram dan lain-lain.Dipamerkannya senjata dari beberapa negara tetangga, kata Penasihat Paguyuban Trah Hamengku Buwono dan Paku Alam Bali-Nusa Tenggara Dr. RM Heng Roos Gianto, sebagai perbandingan hasil karya para leluhur bangsa Indonesia dengan negara luar. Benda-benda pusaka dari negara luar seperti samurai, golok dan pisau belati, secara fisik memang tampak memiliki ketajaman. ”Tetapi tosan aji seperti keris, tombak dan cuntrik ciptaan para mpu kita dulu, selain tampak tajam secara fisik, juga memiliki yoni atau kekuatan gaib. Inilah kelebihan senjata ciptaan nenek moyang kita,” ujarnya. Hampir sebagian besar keris yang dipamerkan itu memiliki yoni atau tuah seperti senjata pusaka yang dipamerkan peserta dari Pejanggik, Lombok. Seperti keris Kebo Teki yang umumnya digunakan para raja.Ketua Peguyuban Sutresna dan Pelestarai Budaya Tosan Aji Bali Ir. Wayan Witasta sependapat dengan RM Heng Roos Gianto bahwa keris diyakini memiliki yoni atau tuah tersendiri. Bahkan, untuk mendapatkan wesi aji bahan baku keris para mpu dulu memperolehnya melalui pawisik lewat meditasi.• SubrataNB:• Nasib Pratima dan Pusaka Pura Majapahit bisa dilihat kasunyatannya nasibnya ngenes /terlunta jadi bagi yang tidak tahu perjalanannya di mohon jangan asal njeplak biar tidak tulah atau kuwalat. (disadur dan disalin tanpa mengurangi dari Bali post Sabtu Pon 26 Juli 2003).

About these ads