KEMBALINYA MAHKOTA MADJAPAHIT


Mahkota peninggalan Kerajaan Majapahit yang sudah ratusan tahun menjadi milik kolektor di mancanegara di kembalikan pada Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI Raja Majapahit masa kini.

Berdasarkan pawisik para Spiritualis seuruh Dunia bahwa Mahkota Raja Majapahit harus di serahkan kepada Sri Wilatikta Brahmaraja XI yang memang ” Pas ” di kepalanya, sebelumnya Mahkota telah di cobakan beberapa tokoh tapi tidak pas, beberapa orang barat yang rata-rata kepalanya besar setelah di cobakan lodok / longgar / kebesaran.
Di pakaikan Raja Bali Mula ” Dewa Agung Putranata Wijaya Kusuma “adik dari kandung Maha guru Wijaya Kusuma penyungsung tapakan
Dewi Tangan Seribu (yang pernah di ramalkan usia 32 tahun ketemu Dewi Tangan Seribu / Ibu Siwa Parwati / Ibu Majapahit Sri Paduka Rajapatni Biksuni Sakti Pelindung Jagadraya dan akhirnya ramalan itu terbukti dan selanjutnya menjadi pengagum Majapahit sekaligus mengundang Dewi Tangan Seribu ke Pura Kahyangan Jagad Tuluk Biyu untuk memberikan restu dan do`a kesejahteraan untuk seluruh masyarakat). Dewa Agung Putaranata ini orangnya kecil rata-rata seperti orang Indonesia pada umumnya malah kekecilan. Aneh memang di masa yang sudah modern dan ilmiah ada Mahkota mencari kepala yang pas, bagi yang tidak di kehendaki bisa di jepit kepalanya. Nah, Akhirnya ada wahyu atau pewisik bahwa ” Kepala yang Pas ” adalah Hyang Bathara Agung Suryo Wilatikta atau Abhiseka Raja Majapahit dengan gelar SRI WILATIKTA BRAHMARAJA XI di Puri Surya Majapahit Jimbaran-Bali ” Keraton Ibu Kerajaan Majapahit Pusat / Pura Ibu Kawitan Pusat Kerajaan Majapahit ” terletak di kawasan Banjar Buana Gubug Puri Gading Jimbaran. Dan Puri Gading sekarang menjadi incaran tokoh-tokoh Budaya dan Spiritualis dari berbagai lintas agama dan kepercayaan.

Akhirnya para utusan Negara yang menginginkan Dunia Adil makmur Sejahtera meminta Brahmaraja XI mencoba walaupun beberapa kali ditolak oleh Raja Majapahit tersebut dengan alasan mungkin masih ada yang lain yang berhak menerimanya. Tapi dengan keyakinan yang tidak di ragukan, para utusan Negara ini mencoba memakaikan kepada Raja Majapahit ternyata pas dan ketika Way Cing Lee putri dari Raja Tumasik (Singapura sekarang) mengenakannya tiba-tiba terjadi keanehan muncul Sinar Mas turu dari langit disertai angin gemruh serta kilat menyambar-nyambar, selendang Way Cing Lee yang berwarna Jingga seperti leluhur Majapahit bernama Dara Jingga titisan Dewi Kwan Im Tangan Seribu yang bergelar SRI PADUKA RAJAPATNI BIKSUNI SAKTI PELINDUNG JAGADRAYA terlepas dan menyambar seakan-akan ingin memeluk Brahmaraja untuk mengungkapkan kata, Leluhur bangga menyaksikan keturunannya yang ke sebelas mengenakan Mahkota karena leleuhur sudah ” meraga sukma “ dan tidak mungkin ” Roh ” mengenakan barang nyata yang pasti akan jatuh mahkota tersebut, tapi melalui keturunannya leluhur Majapahit gembira karena Majapahit masih ada.
Terdengar pula nyanyian surgawi hingga suaranya terdengar dari seluruh penjuru arah serta terekam semua dokumentasi Wartawan seluruh dunia yang hadir pada malam yang sakral dan keberuntungan menyertai mereka. Akhirnya Mahkota di serahkan kepada Brahmaraja XI melalui Putri Pendiri Republik Indonesia Dyah Ayu Sukmawati Soekarnoputri yang tanpa di duga ikut hadir bersama rombongan ke Pura Ibu Majapahit Jimbaran-Bali. Seperti di kehendaki, Bung Karno yang pendiri R.I memeinjam Sukma / Roh untuk menyaksikannya, kebetulan juga Sukmawati adalah Sukma / Roh Bung Karno yang asli Putra Majapahit. Penyerahan di sertai do`a bersama Pendukung Majapahit seluruh Dunia. Dalam menebus Mahkota Bangkok, Siam, Thailand, Singapura, China, Australia mengulkan urunan uang untuk menebus harga mahkota supaya semua merasa memiliki Majapahit. Dalam sambutannya pihak Singapura yang di wakili Miss.Way Cing Lee menyatakan gembira dan puas bisa menyerahkan kembali Mahkota dan dengan demikian Dunia akan tentram kembali. Pihak Australia menyatakan semoga di dunia aman dan damai serta Gemah Ripah Loh Jinawi dan Bathara Wisnu menitis kepada Hyang Brahmaraja XI yang telah terbukti menyatukan etnis, suku, Agama, Kepercayaan dan lain-lain di Puri Surya Majapahit.
Dalam sambutannya Brahmaraja XI menyatakan,” Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar tetapi berjalannya waktu Bangsa ini menjadi Bangsa “pengimport” termasuk import Agama, jadi semua agama yang di anut di Indonesia semuanya import, kita sudah tidak bangga lagi dengan Tanah Air yang subur makmur.” kata Brahmaraja. ” Satu-satunya yang eksport adalah TKI dan TKW yang pulang kebanyakan dengan kesengsaraan bahkan mati”, imbuhnya. Brahmaraja juga mengungkapkan kegalauan hatinya tentang rakyat yang di tinggalkan oleh para Leluhur Majapahit yang pernah menyatukan Nusantara dan menjadi kebanggaan seluruh negeri. Brahmaraja menambahkan ketakutan para Dajjal yang sekarang meraja-lela dengan bangkitnya Majapahit. Musibah-musibah ini akan kembali tentram jikalau tiga permata yang hilang dari mahkota sudah kembali.
Kitab Negara Kerthagama menyebutkan dalam sastra Raja Pandawa yang di sadur ke bahasa indonesia” Sepeninggalnya jaman kali (Kali Yuga), Dunia murka, timbul huru hara, hanya Bathara Raja yang faham dalam nam guna, dapat menjaga jagad. Itulah sebabnya Sri Paduka teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni, teguh tawakkal memegang Pancasila, laku yang utama, upacara suci gelaran jinabrata yang temahsyur ialah Sri jnanabadreswara, menghormati Ibu, lulus dalam filsafat, ilmu bahasa dan lain pengetahuan Agama. Berlomba-lomba Beliau menghirup sari segala ilmu kebatinan, pertama-tama Tantra Subuti di selami, intinya masuk ke hati, melakukan puja, yoga, semadi demi keselamatan seluru Praja, menghindarkan tenung. mengindahkan anugerah kepada rakyat murba.Di antara Raja yang lampau tidak ada yang setara dengan Beliau. Faham akan nam guna, sastra, tatwapadesa, itulah sebabnya Beliau menjadi Raja Pelindung yang bersemayam di alam Siwa Buda”.
Kejadian di luar dugaan, di era globalisasi masih ada kejadian aneh sebuah mahkota peninggalan Majapahit bisa memilih kepala yang pas untuk di kenakan. Sebuah bukti ilmiah yang sulit di terima akal sehat tapi benar-benar terjadi dan di saksikan banyak orang seluruh dunia.
Setelah menerima Mahkota, Hyang Mulia Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI di minta MERUWAT JAGADRAYA / DUNIA pada tanggal 7-September-2008 di Pura Jagadnatha Denpasar Bali oleh Hindu Dunia (WHYO). Dan untuk pertama kalinya Pura Jagadnatha di penuhi semua umat beragama dan lintas bangsa seluruh dunia bahkan Barongsay untuk pertama kalinya di tampilkan. Malam sebelumnya terjadi suatu keanehan seluruh Bali di guyur Hujan hingga di sekitar Pura Jagadnatha di dalam pura tidak hujan sama sekali (penulis saksinya dengan pemangku pura). Besoknya banyak sepiritualis dunia dan dari lintas Agama mengalami kesurupan, bahkan Kuda dokar yang di tumpangi Brahmaraja ikut kesurupan.

Sebelumnya Hyang Bathara Agung Brahmaraja XI menerima pucuk Tumpeng Agung HUT.Paduka Yang Mulia KGPAA Mangkoenagoro IX, di teruskan menerima piagam Bintang DARMA BUDAYA dari peladen Bangsa Kanjeng Pangeran Wa Arya Sontodipuro. Inilah yang membikin Brahmaraja tertantang bukan bangga ongkang-ongkang kaki mendapat penghargaan, tapi terus berjuang untuk kebangkitan Majapahit yang Gemah Ripah Loh Jinawi yang sesuai dengan permintaan dari dunia berdasarkan Ramalan Leluhurnya hingga membuat para Dajjal di Bumi Nusantara ketakutan terusir dari tanah yang subur kembali ke tanah arab yang tandus.

About these ads